Tampilkan postingan dengan label Taushiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Taushiyah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Juli 2014

Bagaimana Mengakhiri Ramadhan

Hatta Syamsuddin, Lc

Segala puji bagi Allah, teriring doa dan keselamatan semoga terlimpah atas nabi dan rasul termulia: Muhammad SAW, juga atas keluarga dan para sahabat, serta kepada semua yang mengikuti mereka dalam kebenaran sampai hari kiamat nanti. Ramadhan akan segera berlalu. Kurang lebih beberapa hitungan hari lagi lagi hilal syawal akan muncul dan mengakhiri bulan mulia itu. Seperti biasa, kaum muslimin menyikapi akhir Ramadhan dengan ragam kegiatan yang berbeda-beda. Sebagian menjalankan sunnah I’tikaf untuk mengais keberkahan yang tersisa di bulan ini, khususnya kemuliaan malam lailatul qadar. Sebagian lainnya mulai menyibukkan diri untuk menyambut lebaran yang tengah dinanti. Berbagai adat tradisi yang mengitari seputar idul fitri pun mulai bermunculan di sana-sini. Setiap muslim di ujung ramadhan mendapati dirinya pada dua dilema yang selalu berulang setiap tahunnya. Kita pasti bersedih karena akan kehilangan momentum pahala dan keberkahan yang berlipat-lipat di bulan ramadhan, namun pada saat yang sama kita juga harus bergembira dengan datangnya hari raya Idul Fitri. Dari Aisyah ra, Rasulullah SAW bersabda tentang kebahagiaan di hari raya : “ Sesungguhnya setiap kaum itu mempunyai hari raya, dan sungguh inilah hari kegembiraan bagi kita “ (HR Bukhori).

Setidaknya ada tiga hal yang bisa dilakukan seorang muslim di akhir ramadhan, agar bisa tetap optimal dalam menutup ramadhan, sekaligus mempersiapkan kebahagiaan yang syar’I di hari raya nanti ;

Senin, 28 Oktober 2013

IKHLAS BERKORBAN DEMI TPA

Oleh : Main Sufanti
Pengasuh TPA AL-Hidayah Karang Tengah Ngadirejo Kartasura
Dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta

            Allah berfirman dalam Q.S  At-Tahriim:6 yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka….” .  Begitu pula, hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah Saw. Bersabda: “Jika manusia telah meninggal dunia maka putuslah amalnya kecuali tiga hal, yakni shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakan kedua orang tuanya”.  Ayat dan hadits tersebut memberikan penjelasan kepada kita bahwa mempunyai anak yang shalih dan shalihah adalah dambaan sekaligus tanggung jawab bagi setiap orang tua.  Keberhasilan seseorang dalam mendidik anak sehingga menjadi anak yang sholih dan sholikhah  merupakan keberhasilan seseorang dalam memelihara keluarganya dari api neraka. Selain itu, anak yang sholih dan sholikhah merupakan  salah satu amal yang kebaikannya tidak terputus, walaupun seseorang telah meninggal.
Pendidikan menjadi salah satu media yang dipercaya bisa menempa perkembangan anak, baik kecerdasan otak maupun kecerdasan spiritual, sehingga menjadi anak yang sholih dan sholikhah. Pendidikan ini merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat, dan pemerintah. Oleh karena itu, kita mengenal pendidikan formal, nonformal, dan informal.
 Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) merupakan salah satu lembaga pendidikan nonformal yang perlu mendapat perhatian dari berbagai pihak. Lembaga ini tidak sekadar mendidik anak bisa membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar, tetapi juga mengembangkan pendidikan agar anak dapat menjalani hidup secara islami.  Jika anak dapat menerapkan kehidupan sehari-hari secara islami, itulah anak yang sholih dan sholikhah.

Rabu, 17 Juli 2013

Mensyukuri Nikmat dan Menikmati Syukur Menjadi Guru TPQ

Oleh : Faqih Annisa

TPQ (Taman Pendidikan al-Qur’an) adalah salah satu organisasi yang banyak menjamur di masyarakat sebagai bentuk kepedulian terhadap pendidikan agama islam pada anak-anak. Kelahirannya sangat diharapkan. Tetapi sedikit yang memperhatikan dan mencurahkan pikiran untuk mengelolanya dengan baik.
Apakah antum seorang guru? Guru ngaji? Luruskan niat antum wa antunna bahwasannya TPQ hanya untuk mencari ridho Allah. Kalau antum melenceng dari niat ini, maka TPQ sia-sia saja sebagai ladang dakwah. Jangan jadikan materi dunia sebagai tujuan utama. Karena itu akan mengecewakan antum dan menghapus semua amal-amal kebaikan. Tentunya yang menjadi tujuan utama adalah menyiapkan anak didik menjadi generasi muslim yang bisa membaca Al-Qur’an, mencintainya, komitmen terhadapnya dan menjadikannya sebagai pandangan hidupnya. Pada dasarnya, peran antum sebagai pendidik di TPQ inilah tugas atau amanah yang memang harus diemban dengan totalitas dan sepenuh hati. Pun pengorbanan yang tak setengah-setengah.
Berangkat dari TPQ inilah yang menjadi wadah untuk meluruskan aqidah dan tauhid. Di tengah maraknya isu-isu yang sedang gempar digembar-gemborkan yakni maraknya perbuatan maksiat, bid’ah, baik perbuatan maupun keyakinan, serta perbuatan orang-orang yang sesat bertebaran di sekitar kita. Mulai dari lahirnya aliran-aliran nyeleneh yang membawa nama Islam, hingga muncul orang-orang yang mengaku sebagai Nabi, Rasul, Jibril bahkan mengaku Tuhan. Lebih arogan lagi yang notabenenya orang yang sangat disegani mengaku bisa mewujudkan apapun yang diinginkan para pengikutnya yang berjumlah puluhan bahkan ratusan. Di antara orang-orang yang terpengaruh aliran sesat tersebut, ada juga yang berpendidikan dan telah mengenal agama Islam. Hal ini sangatlah memprihatinkan bagi kita sebagai guru TPQ yang tentunya perlu meluruskan pemahaman yang sekiranya menyimpang dari aturan syari’at islam yang haqiqi.
Dari sekian banyak nikmat yang dianugerahkan oleh Allah kepada umat islam, Islam adalah anugerah yang paling agung. Karena, Islam bukan hanya menuntun manusia pada jalan keselamatan ukhrowi, tapi juga membawa rahmatan lil a’lamin. Tatacara kehidupan manusia diatur sedemikian rupa, dari yang paling berat sampai urusan makan dan membasuh tangan. Islam juga memberikan pandangan yang berbeda terhadap kehidupan manusia dan membedakan dirinya dari hewan ternak yang dipelihara untuk bekerja.
Selain itu, masih banyak nikmat-nikmat lainnya yang tak ada satu pun bisa menghitungnya, kecuali Dzat Yang Maha Mengetahui. Sebagaimana firmannya:
 

Selasa, 21 Agustus 2012

Salah Memaknai Idul Fitri

Bagi kalangan tertentu, bulan Ramadhân yang penuh berkah ini merupakan bulan beban. Ibadah-ibadah di bulan Ramadhân terutama ibadah puasa dianggap sebagai penghambat kesempatan. Meskipun dia tetap menunaikan ibadah puasa, namun tidak dengan sepenuh hati. Sementara kalangan yang lain menganggap, ibadah puasa di bulan Ramadhân merupakan rutinitas yang menjanjikan dan berakhir menyenangkan. Sebab sesudah Ramadhân ada hari raya, Idul Fitri. Para pedagang, sejak jauh-jauh hari sebelum Ramadhân tiba, mereka sudah bersiap melakukan stock barang sebagai persiapan untuk meraup keuntungan melimpah di bulan suci ini. Bahkan banyak pedagang musiman yakni khusus bulan Ramadhân. Para karyawan, pegawai, pekerja, buruh dan lain-lain yang bekerja di luar kota pun punya harapan untuk cuti menjelang hari raya

Muhasabah Bulan Syawal 2

Kalau Sudah Bersih, Kenapa Dikotori Lagi?...
Oleh : ustadzah Dwi Sariningsih
TPQ Madinatul 'Ilmi Ngemplak Kartasura

J
ika Ramadhan sudah pergi meninggalkan kita, maka ia telah menyampaikan berbagai pelajaran dan peringatan kepada hati orang-orang yang beriman. Bulan suci yang merupakan bongkahan dari usia kita, juga akan habis sebagaimana usia kita habis. Disaat-saat seperti itu akan ada banyak kaum yang menyesal, padahal bukan lagi w
aktunya untuk menyesal. Orang-orang yang berbahagia diakhir ramadhan atau diakhir usia adalah orang-orang yang mendapat ridha Allah.

Muhasabah Bulan Syawal

Salah satu indikator ketidakberhasilan ibadah ramadhan bisa kita lihat ketika kita masuk dibulan syawal ketika kita merayakan idul fitri yang oleh kebanyakan orang dinamakan dengan hari kemenangan,kemenangan karena kita telah bisa mengalahkan hawa nafsu kita,kemenangan karena kita telah memaksa diri kita untuk ta'at beribadah kepada Allah melalui serangkaian amalan amalan ramadhan yang merupakan madrasah tarbiyah bagi kaum muslimin.Ketika merayakan hari kemenangan kebanyakan kaum muslimin terbuai dengan

Minggu, 08 Juli 2012

AL-QUR’AN RUH KEBANGKITAN UMMAT

Generasi para sahabat Nabi disebut sebagai generasi manusia terbaik yang pernah terlahir di dunia ini sepanjang sejarah manusia (khaira ummatin ukhrijat linnas). Asy-syahid Sayyid Quthub dalam Ma’alim fi at-thariq, menjuluki generasi Muslimin itu sebagai “Al-Jiilul-Qur’any Al-Fariid”(generasi Qur’ani yang unik). Dalam Al-Qur’an wa tafsiruhu disebutkanbahwa munculnya generasi seperti ini setidaknya karena tiga faktor utama yaitu: Pertama, materi Al-Qur’an yang membawa nilai-nilai yang luhur. Kedua, sosok Nabi Muhammad yang paripurna sebagai pembawa amanat ilahi. Ketiga, panduan dari Allah yang selalu menyertai Nabi Muhammad dalam berdakwah. Tiga hal pokok inilah yang menjadikan agama Islam berkembang dengan sangat pesat di seluruh pelosok negeri dalam waktu yang relatif sangat singkat dalam sejarah dakwah para nabi. Selain ketiga faktor di atas, ada hal lain yang mendukung kemunculan generasi khaira ummah tersebut, yakni kesiapan jiwa para sahabat radhiyallahu anhum untuk selalu berinteraksi dengan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Inilah kunci kebangkitan mereka. Ini pula kunci kebangkitan kita pada saat ini. Saat ini yang harus kita lakukan adalah mengembalikan maknawiyah ummat—termasuk kita di dalamnya—agar mau berinteraksi dengan Al-Qur’an sebagaimana generasi sahabat. Ada tiga karakteristik generasi sahabat dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an.Pertama, menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber utama (al-Qur’an manba-un wahiid). Generasi sahabat mempersepsikan Al-Qur’an sebagai satu-satunya sumber dan landasan kehidupan. Adapun hadits adalah tafsir operasional dari sumber utama itu. Mereka mengenal peradaban Romawi, Yunani, Persia, India, dan China yang tercatat sebagai kebudayaan yang maju waktu itu. Bahkan peradaban Romawi dan Persia mendominasi Jazirah Arab dari utara dan selatan. Tetapi yang menjadi sumber dan acuan generasi sahabat hanyalah Al-Qur’an. Sehingga akal, wawasan, ideologi, dan orientasi mereka terbebas dari pengaruh luar yang tidak sesuai dengan manhaj Al-Qur’an. Sementara generasi berikutnya telah mengalami pembauran sistem dan telah terkontaminasi berbagai polutan dalam memahami sumber utama. Seperti filsafat dan logika Yunani yang banyak mencemari pemikiran pemikir Islam, israiliyat Yahudi dan teologi Nasrani, serta berbagai kebudayaan dan peradaban asing, yang turut mencampuri penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an, sehingga mengurangi kadar kejernihan pemikiran generasi berikutnya dalam memahami Al-Qur’an. Kedua, menerima Al-Qur’an untuk diamalkan (manhaj at-talaqqi). Para sahabat menerima perintah dari Allah persis seperti seorang prajurit menerima perintah dari komandannya. Al-Qur’an diterima untuk diterapkan secara langsung dalam kehidupan pribadi dan masyarakat. Bukan ditujukan untuk menyingkap rahasia alam, sains, atau pengayaan materi-materi ilmiah. Karena Al-Qur’an bukan buku seni, sains, atau sejarah, sekalipun semuanya terkandung di dalamnya. Sesungguhnya ia diturunkan sebagai pedoman hidup (minhajul hayah). Ketiga, Isolasi (mufashalah) dari persepsi lama. Selain menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber utama—yakni dengan membebaskan akal, wawasan, ideologi, dan orientasi dari pengaruh luar—para sahabat pun membersihkan jiwanya dari noda dan kotoran masa lalu di masa jahiliyyah dengan petunjuk Al-Qur’an. Mereka memulai hidup baru yang sama sekali berbeda dengan masa lalunya. Interaksinya dengan Al-Qur’an telah merubah total lingkungan, kebiasaan, adat, wawasan, ideologi, serta pergaulannya. Ketiga karakteristik inilah yang tidak dimiliki oleh generasi berikutnya, sehingga tidak bertahannya nilai-nilai ke-Islam-an yang utuh dalam persepsi dan mata hati mereka. Dr Muhammad Al Ghazali berkata, “Generasi pertama terangkat kemuliaannya karena menempatkan Alquran di atas segala-galanya. Sedangkan generasi sekarang jatuh kemuliaannya karena menempatkan Alquran di bawah nafsu dan kehendak dirinya”. Fenomena Hari Ini DR. Yusuf Qaradawi dalam salah satu ceramahnya mengungkapkan bahwa saat ini kondisi ummat Islam tidak tepat dalam bersikap terhadap Al-Qur’an. Mereka menjadikan Al Qur’an terlupakan, mereka menghapal huruf-hurufnya, namun tidak memperhatikan ajaran-ajarannya. Mereka tidak mampu berinteraksi secara benar dengannya, tidak memprioritaskan apa yang menjadi prioritas Al Qur’an, tidak menganggap besar apa yang dinilai besar oleh Al Qur’an serta tidak menganggap kecil apa yang dinilai kecil oleh Al Qur’an. Di antara mereka ada yang beriman dengan sebagiannya, namun kafir dengan sebagiannya lagi, seperti yang dilakukan oleh Bani Israel sebelum mereka terhadap kitab suci mereka. Mereka tidak mampu berinteraksi secara baik dengan Al Qur’an, seperti yang dikehendaki oleh Allah SWT. Meskipun mereka mengambil berkah dengan membawanya serta menghias dinding-dinding rumah mereka dengan ayat-ayat Al Qur’an, namun mereka lupa bahwa keberkahan itu terdapat dalam mengikut dan menjalankan hukum-hukumnya. Seperti difirmankan oleh Allah SWT: “Dan Al Qur’an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat.” (QS. Al An’aam, 6: 155). Saat ini ummat Islam baru menunaikan kewajibannya terhadap Al-Qur’an sebatas penjagaan dan pemeliharaan saja. Ummat Islam juga menaruh perhatian yang sangat besar dalam mengajarkan Al-Qur’an agar dibaca dan dihafalkan oleh anak-anak mereka. Apa yang mereka lakukan itu memang sudah merupakan pekerjaan besar. Namun belumlah cukup jika hanya berhenti sampai pada titik itu saja. Membaca dan mendengar Al-Qur’an dengan Tadabbur Merenungi (tadabbur) Al-Qur’an merupakan keharusan baik ketika membaca atau saat mendengarkannya. Itulah yang dulu diperbuat oleh para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka senantiasa membaca (tilawah) Al-Qur’an, merenungkan dan mengamalkannya. Mereka tidak beranjak dari satu ayat ke ayat lainnya, dari satu surat ke surat yang lainnya, kecuali setelah mereka benar-benar memahami dan mengamalkannya. عَنْ أَبِى عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ حَدَّثَنَا مَنْ كَانَ يُقْرِئُنَا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُمْ كَانُوا يَقْتَرِئُونَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَشَرَ آيَاتٍ فَلاَ يَأْخُذُونَ فِى الْعَشْرِ الأُخْرَى حَتَّى يَعْلَمُوا مَا فِى هَذِهِ مِنَ الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ. قَالُوا فَعَلِمْنَا الْعِلْمَ وَالْعَمَلَ. (أحمد) Riwayat dari Abi Abdul Rahman as-Sulamiy (seorang tabi’in), ia berkata, “Telah menceritakan kepada kami orang yang dulu membacakan kepada kami yaitu sahabat-sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa mereka dulu mendapatkan bacaan (Al-Qur’an) dari Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sepuluh ayat, mereka tidak mengambil sepuluh ayat yang lainnya sehingga mereka mengerti apa yang ada di dalamnya yaitu ilmu dan amal. Mereka berkata, ‘Maka kami mengerti ilmu dan amal.’” (Hadits Riwayat Ahmad nomor 24197, dan Ibnu Abi Syaibah nomor 29929) Oleh karena itu, para ulama pada masa lalu dijuluki dengan julukan Al-Qurra’ (orang yang banyak membaca Al-Qur’an). Arti membaca (qira’ah, tilawah) bukanlah sekedar membaca tanpa memahami maksud dan maknanya, sebagaimana banyak terjadi pada masa-masa sekarang ini. Akan tetapi Al-Qari’ (pembaca) adalah identik dengan Al-‘Alim (orang yang mengetahui). Dan Al-Qurra’ berarti para ulama dan para pakar hukum Islam. Begitupula mendengarkan Al-Qur’an bukanlah sekedar mendengar atau hanya menikmati keindahan lagu dan suara merdu pembacanya. Akan tetapi mendengar disini harus disertai dengan merenungkan arti dan maksudnya. Bagaimanakah kondisi manusia pada masa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam saat mendengar Al-Qur’an? Allah SWT berfirman, “Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Quran) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Quran dan kenabian Muhammad s.a.w.).” (QS. Al-Maidah, 5: 83). “Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: ‘Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi. Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu‘.” (QS. Al-Isra’, 17: 107 – 109). “Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat- ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang- orang yang tuli dan buta.” (QS. Al-Furqan, 25: 73) “…dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (QS. Al-Anfaal, 8: 2). Begitulah mereka saat mendengar bacaan Al-Qur’an; mencucurkan air mata, menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, menangis dan bertambah khusyu, mendengar dengan penuh kesungguhan, sehingga bertambahlah iman mereka. Bagaimanakah dengan kita? Harus kita akui, cukup banyak di antara kita orang-orang yang apabila dibacakan Al-Qur’an, hatta yang mengandung ancaman-ancaman yang dahsyat, malah bersikap acuh-tak acuh; tidak terpengaruh, seolah-olah tidak mendengar sesuatu yang luar biasa. Yusuf Qaradawi mengatakan bahwa kondisi ummat Islam yang tidak sesuai dengan tuntutan Al-Qur’an tersebut, sangat difahami dengan baik oleh musuh-musuh Islam. Sehingga mereka tidak risau untuk menyiarkan bacaan Al-Qur’an di berbagai pemancar radio mereka. Radio zionis Israel tidak segan-segan menyiarkan bacaan Al-Qur’an, demikian juga Radio London, dan Suara Amerika. Seolah-olah mereka yakin bahwa Al-Qur’an tidak akan berpengaruh sedikit pun kepada kita. Padahal pada masa lalu, ketika Al-Qur’an dibacakan kepada orang-orang Arab, ia mampu menggoncangkan dan merubah peradaban secara total. Orang-orang musyrik sangat takut terhadap Al-Qur’an walaupun hanya dibaca. Mereka menghalangi anak-anak dan wanita-wanita mereka agar tidak mendengar Al-Qur’an. “Dan orang-orang yang kafir berkata: ‘Janganlah kamu mendengar Al Quran ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan mereka’.(QS. Fushilat, 41: 26). Berinteraksilah dengan Al-Qur’an, Islam pasti jaya! “Selama kaum Muslimin masih memegang Al-Qur’an di tangan mereka, maka Eropa tidak akan mampu mencengkramkan kekuasaannya di negeri-negeri Timur!” Kalimat ini diungkapkan pada abad 18 oleh William Gladstone, PM Inggris zaman Ratu Victoria. Dari kata-katanya yang penuh kedengkian ini kita dapat memahami bahwa kekuatan kaum Muslimin sesungguhnya terletak pada sejauh mana komitmennya terhadap Al-Qur’an. Inilah kekuatan dahsyat yang menjadi kunci kebangkitan dan kejayaan mereka. Inilah kunci menuju kemenangan dan kemuliaan mereka. Sejarah telah berbicara sebagai fakta abadi; bahwa ummat ini dapat memperoleh izzahnya dengan Al-Qur’an. Dan merekapun Allah kerdilkan karena meninggalkan Al-Qur’an. Renungkanlah sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berikut: اِنَّ اللّهَ يَرْفَعُ بِهَاذَاالكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ آخَرِيْنَ (مسلم) “Sesungguhnya Allah, dengan kitab ini (Al-Qur’an) meninggikan derajat kaum-kaum dan menjatuhkan derajat kaum yang lain.” (HR. Muslim). Maksud hadits ini menurut DR. Muhammad Faiz Almath, “Barangsiapa yang berpedoman dan mengamalkan isi Al-Qur’an, maka Allah akan meninggikan derajatnya, tapi barangsiapa yang tidak beriman kepada Al-Qur’an, maka Allah akan menghinakannya dan merendahkan derajatnya.” Oleh karena itu mereka yang rindu pada kebangkitan ummat Islam, harus segera membuka katup jiwanya dan memenuhinya dengan kesejukan Al-Qur’an. Biarlah ia mengalir mengisi relung-relung jiwa, menyegarkan iman, membersihkan pikiran, dan membuahkan amal. Mereka harus mengiringi langkah-langkahnya dengan kekuatan kalamullah, sebagaimana generasi pertama mereka memulai langkah-langkahnya dengan kekuatan itu. Ingatlah kata-kata bijak Imam Malik, “Umat ini tidak akan jaya kecuali dengan cara pertama kali ia dijayakan genarasi awalnya.” Tidak ada jalan untuk membangkitkan umat dari kelemahan dan ketertinggalan mereka selain dari kembali kepada Al Qur’an ini. Dengan menjadikannya sebagai panutan dan imam yang diikuti. Dan cukuplah Al Qur’an sebagai petunjuk: “Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?.” (QS. An Nisaa, 4: 122) Maraji’: Al-Qur’an wa tafsiruhu, Kementerian Agama RI Berinteraksi dengan Al Qur’an, Dr. Yusuf al Qaradhawi http://hidayatullah.or.id/in/sistematika-wahyu-dokumen-online-88/56-profil-generasi-qurani/79-profil-generasi-qurani.html?showall=1 Gambaran Terjaganya Kemurnian Islam, Hartono Ahmad Jaiz 1100 Hadits Terpilih, DR. Muhammad Faiz Almath

Selasa, 29 Mei 2012

Mendidik Dengan Keteladanan

Keteladanan yang baik memberikan pengaruh yang besar terhadap jiwa anak,anak banyak meniru kedua orang tuanya,bahkan bisa membentuk karakter anak.Dalam hadist yang sangat populer disebutkan,..."kedua orang tuanyalah yang  menjadikannya sebagai yahudi,majusi atau nasrani." Rosulullah sendiri mendorong kedua orang tua agar menjadi teladan yang baik bagi anak anak mereka terutama berkenaan dengan akhlak kejujuran didalam bergaul dengan anak anak.


Anak Ibarat cermin bagi diri kita
Abu Dawud meriwayatkan dari Abdullah bin Amir bahwa ia berkata,"Pada suatu hari ibuku memanggilku,sementara itu Rosulullah sedang duduk dirumah kami.Ibuku berkata,"Kemarilah ,kuberi sesuatu."Rosulullah kemudian bertanya,"Apa yang hendak engkau berikan?".Ibuku menjawab,"Aku ingin memberinya kurma.”Kemudian beliau bersabda,”Jika engkau tidak memberinya sesuatu,maka engkau dicatat sebagai orang yang berdusta.”

Anak anak akan selalu mengawasi dan memperhatikan perilaku orang dewasa baik itu orang tuanya maupun orang dewasa disekitarnya termasuk para pendidk mereka (Ustadz/Ustadzah),Mereka akan mencontoh orang orang itu,jika anak anak mendapati mereka jujur maka mereka akan tumbuh  diatas kejujuran.Demikian pula sebaliknya.

Adalah Ibnu Abbas ketika menyaksikan Rosulullah yang sedang melaksanakan shalat malam dihadapannya,maka ia bergegas untuk mengikuti beliau.Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ia berkata,”Aku pernah menginap dirumah bibiku, Maimunah,pada suatu malam,Lalu Nabi bangun malam,Beliau bangun kemudian berwudhu,selanjutnya mengerjakan shalat.Akupun kemudian turut mengambil wudhu seperti yang dilakukan beliau kemudian aku berdiri ikut mengerjakan disamping kiri beliau,kenudian beliau memindahkanku disebelah kanan beliau kemudian mengerjakan shalat.”
Ibnu Abbas (yang waktu itu masih kecil) mengambil air wudhu seperti yang ai lihat dari Rosulullah,kemudian berdiri mengerjakan shalat.Demikianlah keteladanan yang baik itu memberikan pengaruh yang besar terhadap anak.

Dalam dunia pendidikan Anak (TPQ) ustadz maupun ustadzah mendapatkan tempat yang istimewa di hati para santri,mereka telah menganggap ustadz/ustadzah sebagi orang tua kedua bagi mereka,sehingga mereka akan selalu mengawasi dan mencontoh perilaku dari ustadz maupun ustadzahnya,untuk itu sebagai salah satu figur dari hendaknya para asatidzah senantiasa memberikan contoh perilaku yang baik bagi para santri santrinya.

Ustadz maupun ustadzah dituntut untuk mengimplementasikan perintah perintah Allah dan sunnah sunnah Rosulullah sebagai perilaku dan amalan sehari hari karena anak anak akan terus mengawasi dan meniru mereka setiap waktu.Sadar atau tidak kemampuan anak anak manerima itu sangat tinggi  diluar dugaan kita. Wallahu ‘alam    

Selasa, 06 Maret 2012

Cintailah Ilmu...Wahai Anakku...!!!

Sunnguh aku telah lupa tentang ilmu yang aku pelajari ketika dewasa
Namun aku tidak lupa tentang apa yang aku pelajari ketika belia
Yang namanya ilmu adalah yang dipelajari ketika muda
Sedangkan kesabaran itu adalah menyabarkan diri ketika tua
Ilmu sesudah rambut beruban adalah tekanan
Ketika itu hati telah tumpul,begitu juga pendengaran dan pengelihatan
Sekiranya hati itu dibuka ketika masih muda
Maka ia akan melihat ilmu seperti mengukir diatas batu

Itulah sebait syair/sajak yang ditulis oleh Ibnu Abidin dalam kitab Hasyiyah-nya yang menggambarkan betapa pentingnya menuntut ilmu ketika masih muda.

Thabrani meriwayatkan  dari Abu Darda' bahwa Rosulullah bersabda,"Perumpamaan orang yang mempelajari ilmu di waktu kecil adalah seperti memahat batu,sedangkan perumpamaan mempelajari ilmu ketika dewasa adalah seperti menulis diatas air."

Abu Hurairah meriwayatkan secara marfu',"Siapa yang mempelajari Al-Qur'an ketika masih muda,maka Al-Qur'an akan menyatu dengan daging dan darahnya.Dan siapa mempelajarinya ketika dewasa,sedangkan ilmu itu akan lepas darinya dan tidak melekat pada dirinya,maka ia akan mendapat pahala dua kali." Diriwayatkan oleh Baihaqi,Dailami dan Hakim.
Para sahabat dan tabi'in serta para ahli hadist menegaskan bahwa belajar diwaktu kecil itu memberi pegaruh yang jauh lebih besar terhadap perkembangan keilmuan anak.Disamping itu juga lebih kuat dan lebih melekat di dalam ingatan.

Tak ketinggalan para sastrawan,para ahli hikmah dan para ulama seluruhnya memberi nasihat kepada kaum ayah untuk membimbing anak anak agar mencari ilmu dan pengetahuan sejak usia dini.
Ahmad Syauqi menyeru para pendidik umat dan para pembaharunya agar memberikan perhatian terhadap masalah pendidikan anak anak,karena dari merekalah akan lahir generasi yang akan melakukan suatu keajaiban dan membangunkan umat dari tidurnya.

Betapa banyak orang kecil yang diberi pengajaran oleh kaumnya
Akhirnya menjadi orang yang  mulia dan bisa melindungi orang banyak
Ia menjadi orang berguna dan kebanggan bagi kaumnya
Andaikan ia meninggalkan ilmunya,maka cacat dan aiblah baginya
Maka ajarilah generasimu sesuai yang kau mampu
Mudah mudahan ia menjadi generasi yang bisa melahirkan keajaiban.

Jika kecintaan terhadap ilmu dan kecintaan untuk menuntutnya itu telah benar benar  tertanam dalam jiwa dan pikiran anak,maka dengan sendirinya ia akan terus menuntutnya dengan segala kesulitan dan beban berat yang harus dipikulnya dalam rangka mencari ilmu.Ia juga akan rela tidak tidur malam untuk mendapatkan ilmu tanpa diperintah oleh kedua orang tuanya

Sabtu, 03 Maret 2012

Urgensi Mengajari Anak Berlaku Jujur

Perilaku jujur merupakan satu pilar penting diantara pilar pilar akhlak islam.Untuk memfokuskan dan meneguhkan hal ini jelas dibutuhkan kerja keras.Rosulullah sendiri memberikan perhatian untuk menanamka perangai ini pada diri anak.Beliau juga memberikan pengarahan kepada orang tua agar membiasakan diri berperilaku jujur.Ini dengan maksud agar mereka tidak terperosok kedalam ketidakjujuran yang tercela itu,lalu berbuat bohong kepada anak yang pada akhirnya akan ditiru si anak tersebut.

Belaiu juga menempatkan kaidah umum bahwa anak juga manusia yang mempunyai hak hak dalam bermuamalah kemanusiaan.Kedua orang tua tidak dibenarkan untuk berbohong  atau menipu anak dengan cara apapun dan mengabaikan muamalah dengannya.

Abu Dawud meriwayatkan dari Abdullah bin Amr bahwa ia berkata,"Ibuku memanggilku pada suatu hari,ketika itu Rosulullah sedang duduk bersama kami dirumah kami.Ibuku berkata,"Kemarilah,aku akan memberimu sesuatu."
Rosulullah kemudian bertanya."Apa yang hendak kamu berikan kepadanya? Ia menjawab "Aku hendak memberinya kurman".Beliau bersabda,"Jika ternyata engkau tidak memberikan sesuatu kepadanya,maka engkau menanggung dosa dusta.Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rosulullah bersabda,"Siapa saja yang berkata kepada anaknya "kemarilah,aku beri sesuatu,namun ternyata ia tidak memberinya,maka ia telah ditulis sebagai pendusta".

Demikian besar perhatian Rosulullah terhadap perilaku jujur,maka sudah sepantasnya sebagai orang tua ataupun pengajar(Ustadz/Ustadzah) yang menjadi panutan bagi anak anak untuk senatiasa berbuat dan berlaku jujur dalam segala hal dan kondisi.

Selasa, 28 Februari 2012

Membimbing Anak Sesuai dengan Kecondongan Ilmiahnya

Diriwayatkan oleh Abu Ya'la,Ibnu Asakir dan Abu Dawud dari Zaid bahwa ia berkata,"Rosulullah pernah berkata kepadaku,"Apakah kamu menguasai bahasa suryani? sebab ada beberapa surat yang datang kepadaku dengan bahasa tersebut?.Aku menjawab "Tidak".Beliau bersabda "Kalau begitu pelajarilah".Akupun akhirnya mempelajarinya selama tujuh belas hari."


Riwayat tersebut menceritakan bagaimana Zaid belajar bahasa suryani.Para sahabat sendirilah yang memilihnya kemudian mengajukannya kepada Rosulullah.Mereka sengaja mencalonkannya karena mereka tahu tentang bakat dan kemapuan Zaid dan kecenderungannya kepada masalah bahasa sehingga mampu mewujudkan apa yang diinginkan oleh Rosulullah didalam mempelajari bahasa suryani
.
Ini merupakan bukti dan petunjuk bahwa dalam mengarahkan anak adalah sesuai dengan kecenderungan ilmiahnya dan juga keinginan keinginan kejiwaannya.Sebab,dengan demikian anak lebih bisa menekuni dengan dorongan dari diri sendiri dan juga akan bisa menjadi ahli dan lebih hebat dari yang lain.

Hal ini ditegaskan juga oleh ulama salaf.Ibnu Sina berpendapat "Tidak setiap bidang ilmu atau ketrampilan yang dipelajari oleh anak bisa dikuasai dengan baik.Namun,seyogyanya ia menekuni bidang ilmu yang sesuai dengan karakter dan kecenderungannya."

Ketika Imam Bukhari di masa masa awal beliau ingin mempelajari dan mendalami ilmu fiqih,maka Muhammad bin Hasan berkata kepadanya,"Sekarang pergilah dan tekunilah ilmu hadist!".Hal ini dikatakan oleh Muhammad bin Hasan kepada Bukhari karena ia melihat bahwa Bukhari lebih cocok dalam bidang ini mengingat kemampuannya dalam bidang ini.Bukhari mematuhi sarannya dan akhirnya terbukti menjadi tokohahli hadist dan bahkan menjadi imam para ahli hadist

Jumat, 05 Agustus 2011

Keutamaan Menuntut Ilmu

Ayat yang pertama diturunkan oleh Allah ta’ala kepada Rosulullah sebagai pembuka risalah kenabian adalah surat Al Alaq ayat 1 -5,ayat ini dibuka dengan kata Iqra’ yang artinya bacalah.Artinya pada ayar yang pertama ini memberi perintah kepada Rosulullaah dan sekaligus pada umatnya bahwa kewajiban yang pertama dan utama yang harus dilakukan bagi seorang mukmin adalah belajar atau menuntut ilmu terutama ilmu yang berkaitan dengan Agama atau dien.
Begitu pentingnya menuutut ilmu ini hingga Allah ta’ala memberikan keutamaan keutamaan bagi orang yang terlibat dalam proses menunutut ilmu baik yang belajar maupun yang mengajarkannya diantara keutaman itu antara lain


1.Allah ta’ala akan mengangkat atau meninggikan derajat orang yang berilmu 

niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. (QS Al Mujadilah:11)

Dalam hadist yaang diriwayatkan oleh ibnu majah dan ibnu hibban rosulullah bersabda

“Keutamaan ahli ilmu dibandingkan dengan ahli ibadah seperti perumpamaan bulan purnama dengan bintang bintang disekelilingnya”(HR Ibnu majah & Ibnu Hibban)

Kedudukan yang mulia bagi ahli ilmu ini tidak hanya diberikan pada golongan manusia saja tetapi pada semua mahluk ciptaan Allah termasuk kepada binatang sekalipun.
Seekor anjing yang telah dilatih atau dipersiapkan untuk membantu berburu maka hewan tangkapannya pun menjadi halal,berbeda dengan anjing yang liar yang tidak dilatih untuk berburu maka apapun yang menjadi tangkapannya hukumnya haram untuk dimakan

2.Dimudahkan Jalan menuju surga

Rosulullah bersabda
“Barang siapa yang melakukan perjalanan untuk menuntut ulmu maka Allah akan memudahkannya jalan menuju surga”(HR Muslim)
Dalam riwayat yang lain rosulullah bersabda
“Barang siapa yang didatangi kematian pada saat ia sedang menuntut ilmu ,yang dengan ilmu itu dia hendak menhidupkan islam,maka antara dirinya dan para nabi(hanya) ada satu derajat di surga”(HR Ath-Thabarani & Ad-Darimi)

3.Akan di doakan semua mahluk di muka bumi
“Sesungguhnya Allah dan para malaikatnya ,penghuni langit dan bumi,bahkan semut didalam sarangnya termasuk pula ikan paus benar benar bersholawat kepada orang orang yang mengajarkan kebaikan pada manusia “(HR At Tirmidzi)


Sabtu, 10 April 2010

5 Kewajiban dasar seorang muslim terhadap islam


Sebelum seorang muslim terkena kewajiban yang lain dalam islam seperti sholat puasa dll ia mempunyai kewajiban yang lebih utama yang harus dia dahulukan yaitu:

Meyakini
Seorang muslim terlebih dahulu harus meyakini bahwa islam adalah merupakan satu satunya agama yang diridhoi dan haq disisi Allah,karena itu merupakan pondasi atau dasar dalam agama islam.


Mengilmui

Setelah sorang muslim meyakini bahwa islam adalah agama yang haq disisi Allah dia punya kewajiban untuk mencari ilmu tentang agama islam itu.


“Menuntut ilmu itu wajib bagi muslimin dan muslimat”(Hadist)

Dalam islam ilmu itu di bagi menjadi 2 macam:
a.Wajib ‘Ain artinya harus dikuasai oleh setiap muslim yaitu ilmu Al Qur’an dan hadist
b.Ilmu keutamaan yang bisa di pelajari oleh sekelompok orang saja yaitu ilmu dunia atau IPTEK

Mengamalkan

Setelah seprang muslim mengetahui tentang syariat islam dia harus berusaha unutk mengamalkan apa yang telah dia ketahui semampunya.

Dalam mengamalkan ajaran islam ada dua prinsip dasar yang harus di fahami yaitu:
a.Berkaitan dengan perintah maka dilakukan sesuai dengan kemapuan yang dimiliki dengan catatan harus dengan mengerahkan kemampuan semaksimal mungkin.
b.Berkaitan dengan larangan maka harus di tinggalkan secara mutlak.

Mendakwahkan

Kewajiban selanjutnya adalah berusaha untuk mengajak orang lain atau mendakwahkan agama islam ini kepada orang lain.
Tahapan tahapan dakwah:
1.Dakwah pada diri sendiri (Syahsiyah islamiyah)
2.Dakwah pada keluarga (Usrah islamiyah)
3.Dakwah pada masyarakat

Sabar

Dalam menjalankan semua kewajiban itu tidak semudah membalikkan telapak tangan, penuh dengan tantangan dan cobaan maka di butuhkan kesabaran.
Ibarat sebuah pohon semakin tinggi maka semakin besar terpaan anginnya.



ARTI PENTING PENDIDIKAN ISLAM(TARBIYAH ISLAMIYAH)

1.Agar bisa masuk islam secara kaffah

Allah mewajibkan pada setiap muslim untuk masuk islam secara kaffah atau keseluruhan tidak setengah setengah atau pilih pilih yang sesuai dengan dirinya ia amalkan tetapi ynag tidak sesuai dengan nafsunya ia tidak menerimanya.
Ibarat seseorang yang masuk ke sebuah rumah jika ia tidak mau masuk kedalam atau cuna berdiri di depan pintu saja tentu saja ia tetap akan kehujanan jika terjadi hujan.jika ada bahaya di juga tidak akan terlindungi.



2.Kewajiban dalam agama islam

Pendidikan atau menuntut ilmu dalam islam itu merupakan kewajiban bagi setiap muslim.



3.Sebagai bekal dakwah

Tidak bisa dipungkiri,ketika seseorang hendak mengajak kepada sesuatu maka ia harus punya pengetahuan yang cukup terhadap sesuatu yang dia tawarkan,begitu pula ketika seseorang mengajak pada islam maka ia juga harus punya pengetahuan yang cukup tentang islam itu sendiri,sehingga pendidikan islam menjadi sangat penting bagi orang yang hendak berdakwah sehingga ia mempunyai bekal yang cukup unutk berdakwah

AL IMAN

Arti penting iman
1.Agar manusia tidak merugi


2.Agar manusia tetap mulia





3.Lebih berharga dari emas sepenuh bumi
4.Syarat diterimanya amal

Unsur Unsur Iman
1.Diucapkan dengan lisan
2.Diyakini dengan Hati
3.Diamalkan dengan anggota badan

Sifat sifat iman
- Iman tidak stabil ( Naik-Turun )
- Iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan maksiat
- Iman dan maksiat tidak dapat bersatu
- Iman mempunyai banyak aspek atau cabang (72 Cabang Iman )
- Iman pasti ada ujiannya



Tututtan Iman

- Mensintai Allah dan Rosulnya lebih dari segala sesuatu,urutan cinta; ALLAH  Rosul  Jihad  Orang Tua
- Mendengar dan taat

Ta’liful Qulub


Islam dibangun di atas pondasi aqidah yang kuat dengan struktur bangunan jama’ah yang solid dengan perekat ukhuwah,dan ukhuwah dirajut dengan ta’liful qulub,sebab awal ikatan adalah ikatan hati,perasaan ,pemikiran dan kemudian ikatan tandzim dan kerja.Runtutan tersebut menunjukan bahwa ta’liful qulub adalah awal membangun kerja dalam membangun jama’ah dan menjaga ta’liful qulub merupakan penjagaan terhadap keutuhan dan kesolidan jama’ah.Hal ini sangat nampak dalam ayat ukhuwah ini:


Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara (ali Imran 103)

Ada Hal yang cukup menarik di cermati bahwa ta’liful qulub pada hakekatnya tidak ada yang bisa melakukan kecuali Allah Azza wa jalla,sampai rosulullah pun tidak bisa melakukannya sebagaimana Allah katakan:
"dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman)[622]. Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana." (Al Anfal: 63 )


Yang Jadi pertanyaan,kalau Allah saja yang menyatukan hati kita,maka kapan dan bagaimana Allah memperlakukan hati kita.Sebab Allah tidak akan melakukan perubahan kondisi hati kita kecuali kita mau melakukan apa yang mungkin bisa kita lakukan.Dan berikut apa yang menjadi penyebab Allah menyatukan hati Kita :

 Pertama : Membangun Wala’ terhadap Allah dan Islam
Cinta Dan loyal terhadap Allah merupakan penyebab terbesar ta’liful qulub,Hal itu dikarenakan cinta kepada Allah dibuktikan dengan cinta terhadap hamba hambanya yang Shalih,sehingga ketinggian iman sese orang di ukur seberapa jauh kedekatan seseorang dengan kaum muslimin
 Kedua : Kelembutan hati dan sikap mema’afkan

Setiap orang akan merasa senang jika dihadapi dengan kelembutan dan dimaafkan kesalahannya.dan ini akan menghasilkan Kedekatan Hati,sebagaimana yang di isyaratkan Allah dalam Ayat:

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu (Ali Imran 159)

 Ketiga : Meyamakan Fikroh,Persepsi Dan Mencari titik temu,Serta berusaha menghormati perbedaan yang bersifat tidak prinsipil

Ini Sesuai dengan kaidah yang disampaikan oleh Imam Syahid Hasan Al Banna:
Kita Bekerja Sama Dalam Hal Hal Yang Kita Sepakati Dan Saling Memaklumi Yang Kita Berbeda Pendapatnya.
Mencari titik Persamaan adalah penyebab yang sangat efektif untuk kedekatan hati,dalam kaidah social dikatakan :
“Banyak persamaan melahirkan cinta”
Maka sering kita dapati orang tua yang mencintai anak yang mirip dengan anaknya.Rosulullah melarang kita untuk menyerupai kaum kafir Yahudi dan Nasrani dalam rangka menutup jalan agar kita tidak cinta kepada mereka,dalam hadist dikatakan:
“Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka termasuk dari golongan mereka”

 Keempat : Berbuat Baik,Memberikan Hadiah.Berziarah,memberikan Salam,Penghargaan Dengan Pujian

Dalam pepatah dikatakan:
Berbuat baiklah kepada orang,niscaya engkau rengkuh hati mereka”
Allah berfirman:
Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia (Fushilat:34)
Rosulullah Bersabda:
“Berilah Hadiah kalian pasti akan saling mencintai”

 Kelima: Berdoa
Dan ini yang banyak dilupakan orang,maka banyak orang yang keras hatinya tiba tiba berubah menjadi lembut di sebabkan doa yang dilantunkan di malam hari,kita masih ingat kisah islamnya beberapa para sahabat sebab doa rosulullah buat mereka.