Dalam
rangka meyambung silaturahmi antar pengajar TPQ di kecamatan kartasura
sekaligus sebagai sarana menjaga bacaan
Al Qur’an dari para ustadz dan ustadzah TPQ ,maka BADKO TPQ KARTASURA kembali
meluncurkan sebuah program baru diawal tahun 2014 ini dengan Nama HQ atau
singkatan dari Halaqah Al Qur’an. Forum yang dipromotori oleh LPA (Lembaga
Pendidikan Al Qur’an) Badko TPQ Kartasura ini dimaksudkan sebagai media sharing
tentang ilmu ilmu Al Qur’an bagi para pengajar Al Qur’an mulai dari makhorijul
huruf, tajwid, bacaan ghorib dll. Diharapkan dengan mengikuti forum ini para
ustadz dan ustadzah bisa terus terjaga bacaan Al Qur’annya karena sering
disimak oleh ustadz dan ustadzah lainnya sehingga ketika ada kesalahan bisa
langsung diperbaiki. sesuai dengan kaidah tajwid ulama Qiroah.Bagi ustadz maupun
ustadzah yang ingin bergabung caranya sangat mudah cukup konfirmasi via sms
dengan mengetik HQ#nama#Alamat#Tgl Lahir dan kirim ke 085742344392.
Kamis, 09 Januari 2014
INDONESIA MENDONGENG
Menutup agenda kegiatan tahun 2013 ini BADKO TPQ KARTASURA
menyelenggarakan silaturahmi akbar santri santri TPQ di kecamatan kartasura
dengan tajuk INDONESIA MENDONGENG KEC. KARTASURA dengan mengambil tema “Berbagi
Senyum Untuk Sahabat.”Acara ini merupakan hasil kerja sama antara BADKO TPQ kartasura dengan LDK (Lembaga Dakwah
Kampus) IAIN Surakarta dan didukung oleh Komunitas TPQ Solo Raya yang juga menyelenggarakan acara
yang sama secara serentak di 27 titik di karesidenan Surakarta dan 7 Kota besar
di Indonesia.Acara Indonesia mendongeng kecamatan kartasura yang dilgelar pada tagl 25 Desember 2013 kemarin mengambil tempat di Gedung Graha IAIN Surakarta, dengan menampilkan pendongeng Nasional Kak Wuntat Wawan Sembodo dari Kota Gede Yogyakarta.Antusiasme TPQ sangat luar biasa dalam menyambut acara ini, terlihat dari semangat mereka dalam menghadiri acara ini bahkan ada santri santri yang rela bersepeda demi bisa hadir dalam acara Indonesia Mendongeng ini. Jumlah peserta mencapai 915 yang terdiri dari santri TPQ dan pengajarnya juga sebagian dari wali santri .
Senin, 28 Oktober 2013
IKHLAS BERKORBAN DEMI TPA
Oleh : Main Sufanti
Pengasuh TPA AL-Hidayah Karang
Tengah Ngadirejo Kartasura
Dosen Universitas Muhammadiyah
Surakarta
Allah berfirman dalam Q.S At-Tahriim:6 yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah
dirimu dan keluargamu dari api neraka….” .
Begitu pula, hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah Saw. Bersabda:
“Jika manusia telah meninggal dunia maka
putuslah amalnya kecuali tiga hal, yakni shadaqah jariyah, ilmu yang
bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakan kedua orang tuanya”. Ayat dan hadits tersebut memberikan
penjelasan kepada kita bahwa mempunyai anak yang shalih dan shalihah
adalah dambaan sekaligus tanggung jawab bagi setiap orang tua. Keberhasilan seseorang dalam mendidik anak
sehingga menjadi anak yang sholih dan
sholikhah merupakan keberhasilan seseorang dalam
memelihara keluarganya dari api neraka. Selain itu, anak yang sholih dan sholikhah
merupakan salah satu amal yang
kebaikannya tidak terputus, walaupun seseorang telah meninggal.
Pendidikan menjadi salah
satu media yang dipercaya bisa menempa perkembangan anak, baik kecerdasan otak
maupun kecerdasan spiritual, sehingga menjadi anak yang sholih dan sholikhah. Pendidikan
ini merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat, dan
pemerintah. Oleh karena itu, kita mengenal pendidikan formal, nonformal, dan
informal.
Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) merupakan
salah satu lembaga pendidikan nonformal yang perlu mendapat perhatian dari
berbagai pihak. Lembaga ini tidak sekadar mendidik anak bisa membaca Al-Qur’an
dengan baik dan benar, tetapi juga mengembangkan pendidikan agar anak dapat
menjalani hidup secara islami. Jika anak
dapat menerapkan kehidupan sehari-hari secara islami, itulah anak yang sholih dan sholikhah.
Sabtu, 05 Oktober 2013
Pelatihan BADKO TPQ Kartasura
Ikutilah....
TRAINING " Menjadi Ustadz & Ustadzah di Cintai Santri"
Oleh : KAK WUNTAT ( Trainer Dongeng Nasional )
Hari/ Tanggal : Ahad/ 27 Oktober 2013
Jam : 08.00 s/d Selesai
Tempat : Masjid Al Bukhori ( IAIN Surakarta )
Kontribusi Rp. 5.000,-
Fasilitas : Snack, Sertifikat, Majalah & Ilmu
Pendaftaran Via SMS Ketik Training ; Nama TPQ/Instansi ; Jumlah Delegasi
CONTOH Training ; TPQ Ustman Bin Affan Gonilan ; 10
Kirim ke 085742344392
TRAINING " Menjadi Ustadz & Ustadzah di Cintai Santri"
Oleh : KAK WUNTAT ( Trainer Dongeng Nasional )
Hari/ Tanggal : Ahad/ 27 Oktober 2013
Jam : 08.00 s/d Selesai
Tempat : Masjid Al Bukhori ( IAIN Surakarta )
Kontribusi Rp. 5.000,-
Fasilitas : Snack, Sertifikat, Majalah & Ilmu
Pendaftaran Via SMS Ketik Training ; Nama TPQ/Instansi ; Jumlah Delegasi
CONTOH Training ; TPQ Ustman Bin Affan Gonilan ; 10
Kirim ke 085742344392
Rabu, 17 Juli 2013
Mensyukuri Nikmat dan Menikmati Syukur Menjadi Guru TPQ
Oleh : Faqih Annisa
TPQ (Taman Pendidikan al-Qur’an) adalah salah satu
organisasi yang banyak menjamur di masyarakat sebagai bentuk kepedulian
terhadap pendidikan agama islam pada anak-anak. Kelahirannya sangat diharapkan.
Tetapi sedikit yang memperhatikan dan mencurahkan pikiran untuk mengelolanya
dengan baik.
Apakah antum seorang guru? Guru ngaji? Luruskan niat
antum wa antunna bahwasannya TPQ hanya untuk mencari ridho Allah. Kalau antum
melenceng dari niat ini, maka TPQ sia-sia saja sebagai ladang dakwah. Jangan
jadikan materi dunia sebagai tujuan utama. Karena itu akan mengecewakan antum
dan menghapus semua amal-amal kebaikan. Tentunya yang menjadi tujuan utama
adalah menyiapkan anak didik menjadi generasi muslim yang bisa membaca
Al-Qur’an, mencintainya, komitmen terhadapnya dan menjadikannya sebagai
pandangan hidupnya. Pada dasarnya, peran antum sebagai pendidik di TPQ inilah
tugas atau amanah yang memang harus diemban dengan totalitas dan sepenuh hati.
Pun pengorbanan yang tak setengah-setengah.
Berangkat dari TPQ inilah yang menjadi wadah untuk
meluruskan aqidah dan tauhid. Di tengah maraknya isu-isu yang sedang gempar
digembar-gemborkan yakni maraknya perbuatan maksiat, bid’ah, baik
perbuatan maupun keyakinan, serta perbuatan orang-orang yang sesat bertebaran
di sekitar kita. Mulai dari lahirnya aliran-aliran nyeleneh yang membawa nama Islam, hingga muncul orang-orang yang
mengaku sebagai Nabi, Rasul, Jibril bahkan mengaku Tuhan. Lebih arogan lagi
yang notabenenya orang yang sangat disegani mengaku bisa mewujudkan apapun yang
diinginkan para pengikutnya yang berjumlah puluhan bahkan ratusan. Di antara
orang-orang yang terpengaruh aliran sesat tersebut, ada juga yang berpendidikan
dan telah mengenal agama Islam. Hal ini sangatlah memprihatinkan bagi kita
sebagai guru TPQ yang tentunya perlu meluruskan pemahaman yang sekiranya
menyimpang dari aturan syari’at islam yang haqiqi.
Dari sekian banyak nikmat yang dianugerahkan oleh Allah kepada umat islam, Islam adalah anugerah yang paling agung. Karena, Islam bukan hanya menuntun manusia pada jalan keselamatan ukhrowi, tapi juga membawa rahmatan lil a’lamin. Tatacara kehidupan manusia diatur sedemikian rupa, dari yang paling berat sampai urusan makan dan membasuh tangan. Islam juga memberikan pandangan yang berbeda terhadap kehidupan manusia dan membedakan dirinya dari hewan ternak yang dipelihara untuk bekerja.
Selain itu, masih banyak nikmat-nikmat lainnya yang tak ada satu pun bisa menghitungnya, kecuali Dzat Yang Maha Mengetahui. Sebagaimana firmannya:
Dari sekian banyak nikmat yang dianugerahkan oleh Allah kepada umat islam, Islam adalah anugerah yang paling agung. Karena, Islam bukan hanya menuntun manusia pada jalan keselamatan ukhrowi, tapi juga membawa rahmatan lil a’lamin. Tatacara kehidupan manusia diatur sedemikian rupa, dari yang paling berat sampai urusan makan dan membasuh tangan. Islam juga memberikan pandangan yang berbeda terhadap kehidupan manusia dan membedakan dirinya dari hewan ternak yang dipelihara untuk bekerja.
Selain itu, masih banyak nikmat-nikmat lainnya yang tak ada satu pun bisa menghitungnya, kecuali Dzat Yang Maha Mengetahui. Sebagaimana firmannya:
NIKMATNYA BELAJAR DAN MENGAJARKAN AL-QURAN
Main Sufanti
Pengelola TPA Al-Hidayah Karang
Tengah
Dosen Universitas Muhammadiyah
Surakarta
Umar
bin Affan r.a berkata, Rosulullah s.a.w bersabda: “Sebaik-baik kamu yaitu orang
yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya” (Nawawi et all,1987:123).
Hadits yang diriwayatkan Buchory ini menjelaskan bahwa orang yang mau belajar
dan mengajarkan Al-Quran adalah orang yang terbaik diantara orang-orang lain.
Begitu baiknya, orang mukmin yang bisa membaca Al-Quran diumpamakan oleh
Rosulullah bagaikan buah limau yang baunya harum dan rasanya lezat. Sebaliknya, Rosulullah juga memberi perumpamaan orang munafik yang tidak
membaca Al-Quran bagaikan buah handhol yang tidak berbau dan rasanya pahit
(Nawawi et all,1987:124).
Belajar
Al-Quran dan mengajarkan Al-Quran adalah kewajiban setiap muslim. Belajar
Al-Quran bisa berupa belajar membaca huruf Al-Quran, belajar menulis, belajar
menghafal, belajar memahami makna, sampai pada belajar mengamalkan isi Al-Quran
dalam kehidupan sehari-hari. Belajar
bisa dilakukan secara mandiri juga bisa dilakukan dengan bantuan orang lain.
Proses membantu orang lain dalam belajar
Al-Quran inilah yang disebut mengajarkan Al-Quran.
Taman
Pendidikan Al-Quran
Taman
Pendidikan Al-Quran (TPA) merupakan lembaga
pendidikan nonformal yang bertujuan membentuk generasi Islam yang
betul-betul dapat membaca Al-Quran, memahami Al-Quran, dan mengamalkan ajaran
Islam dalam kehidupan sehari-hari. Lembaga ini biasanya mendidik anak-anak usia
4 – 12 tahun. Namun, pada
perkembangannya ada juga TPA yang
menyelenggarakan pembelajaran untuk remaja bahkan dewasa.
Taman Pendidikan Al-Quran, baik yang
dikenal dengan nama TKA, TKQ, TPA, TPQ, TQA dan bentuk lain yang sejenis telah tersebar luas di tanah air. Dr. Undang
Sumantri (dalam Budiyanti,2011), staf
ahli di Direktorat PD Pontren Departemen Agama RI, pada tanggal 9 Januari 2007
menginformasikan bahwa jumlah TKQ tercatat di Departemen Agama ada 15.756 unit
dan TPQ-nya ada 111.685 unit sehingga totalnya ada 127.441 unit. Adapun jumlah
ustadz sebanyak 544.411 orang. Jumlah
santri TKQ ada 913.981 anak dan TPQ ada
6.812.303 sehingga jumlah totalnya 7.726.284
anak. Ini prestasi yang luar biasa.
Jumat, 17 Mei 2013
Anak Indonesia dan Moralitas Bangsa yang Hilang
Oleh : Miarti
Jika kita mencoba mengukur beban anak zaman sekarang dan anak zaman dahulu, barangkali anak zaman sekarang jauh lebih berbeban. Mulai dari dampak kemudahan teknologi yang cukup sulit untuk diredam, permasalahan moral yang terus mengemuka, serta banyaknya perilaku aneh yang mengakibatkan tipisnya pengertian apakah seseorang bisa dikatakan manusia atau bukan.
Selain itu, rangkaian masalah di negeri ini seolah tiada akhir. Korupsi yang tak berkesudahan, pengangguran dimana-mana, kemiskinan yang merajalela, keadilan yang tak juga mengejawantah, penderitaan para TKI yang tak tertuntaskan, penganiayaan terhadap anak kandung, penjualan anak di bawah umur, banyaknya mavia peradilan alias markus, perilaku bohemian orang-orang berduit, kasus narkoba hingga kematian yang diakibatkan karena menenggak minuman oplosan, berita heboh video mesum mirip artis, serta kasus bunuh diri yang dilakukan oleh seorang anak.
Rangkaian potret buram bangsa kita secara tidak langsung menjadi fatamorgana memilukan bagi kelangsungan hidup anak-anak. Banyak hal yang seharusnya sangat tidak boleh untuk mereka dengar dan mereka lihat, namun ternyata bisa mereka dapatkan dengan sangat mudah. Padahal sejatinya, seorang anak dengan segala genuinitas yang dimilikinya, memiliki kemampuan yang luar biasa untuk menangkap dan merekam berbagai objek. Sehingga dengan sangat mudahnya mereka mempelajari sesuatu bahkan tanpa kita ajari secara langsung sekalipun.
Jika kita mencoba mengukur beban anak zaman sekarang dan anak zaman dahulu, barangkali anak zaman sekarang jauh lebih berbeban. Mulai dari dampak kemudahan teknologi yang cukup sulit untuk diredam, permasalahan moral yang terus mengemuka, serta banyaknya perilaku aneh yang mengakibatkan tipisnya pengertian apakah seseorang bisa dikatakan manusia atau bukan.
Selain itu, rangkaian masalah di negeri ini seolah tiada akhir. Korupsi yang tak berkesudahan, pengangguran dimana-mana, kemiskinan yang merajalela, keadilan yang tak juga mengejawantah, penderitaan para TKI yang tak tertuntaskan, penganiayaan terhadap anak kandung, penjualan anak di bawah umur, banyaknya mavia peradilan alias markus, perilaku bohemian orang-orang berduit, kasus narkoba hingga kematian yang diakibatkan karena menenggak minuman oplosan, berita heboh video mesum mirip artis, serta kasus bunuh diri yang dilakukan oleh seorang anak.
Rangkaian potret buram bangsa kita secara tidak langsung menjadi fatamorgana memilukan bagi kelangsungan hidup anak-anak. Banyak hal yang seharusnya sangat tidak boleh untuk mereka dengar dan mereka lihat, namun ternyata bisa mereka dapatkan dengan sangat mudah. Padahal sejatinya, seorang anak dengan segala genuinitas yang dimilikinya, memiliki kemampuan yang luar biasa untuk menangkap dan merekam berbagai objek. Sehingga dengan sangat mudahnya mereka mempelajari sesuatu bahkan tanpa kita ajari secara langsung sekalipun.
Kamis, 25 April 2013
MILAD KE XI TPQ AL IKHLAS MAKAMHAJI
Ada sesuatu yang berbeda sore itu di TPQ Al Ikhlas
Makamhaji, ya..karena sore itu seluruh pengurus dan santri sedang mengadakan
acara Milad TPQ yang ke XI sekaligus pembukaan training pra tashih metode
pembelajaran al qur’an dengan metode
Qiro’ati.
Acara sedehana yang digelar didepan mushola Al Ikhlas dan
sekaligus gedung belajar TPQ Al Ikhlas yang beralamatkan di perum. Yarsis
Bangsren Makamhaji itu berlangsung dengan meriah. Pada kesempatan itu
ditampilkan parade santri TPQ Al Ikhlas mulai dari santri jilid 1 sampai jilid
6. Diakhir acara ditampilkan pula drama santri
yang mengangkat tentang surat Al Maun. Drama tersebut mengisahkan tentang
perilaku yang salah dari 2 orang anak yang tidak menghargai seorang pengemis,
namun akhirnya datang seorang anak sholeh yang memberi nasehat kepada anak anak
itu untuk berlaku baik dengan pengemis.Akhir drama ditutup dengan sebiuah lagu
dari bimbo tentang anjuran untuk menyayangi anak yatim dan fakir miskin dan
juga sebuah puisi yang dibawakan seorag santri TPQ Al ikhlas. Drama tersebut
menjadi menarik ketika dengan kepolosannya santri santri itu kebingungan karena
lupa dialaog dan alur ceritanya..namanya juga anak anak.
![]() |
| Drama Santri |
![]() |
| Pembacaan Puisi |
Jumat, 12 April 2013
Guru TPQ Nyalakan Semangatmu
Guru TPQ Nyalakan Semangatmu adalah tema yang diambil oleh
panitia dari Lembaga Koordinasi Gerakan Taman Pendidikan Al-Quran (LKG TPQ Solo
Raya) dalam acara Seminar Motivasi Guru TPQ. Acara diselenggarakan pada hari
Ahad 7 April 2013 di Masjid Ibadurrohman Pabelan, Kartosuro. Dalam kesempatan
ini, LKG TPQ Solo Raya mendatangkan nara sumber yang luar biasa dan sekaligus
Guru Besar dari Kak Bimo dan Kak Wuntat (Master Dongeng –Trainer Nasional),
beliau bernama Kak Zainal Fanani. Kak
Zainal adalah orang yang telah sukses mendidik Kak Bimo dan Kak Wuntat menjadi Pendongeng
dan Trainer Nasional dan di dunia TPQ
sudah tidak asing lagi di telinga para guru tpq dan santri tpq di Indonesia
ini.
Dalam seminar ini Kak Zainal sangat bersemngat sekali dalam
menyampaikan materi kepada para peserta. Salah satu pesan Kak Zainal kepada
para peserta untuk selalu ikhlas dalam menjalankan dakwah di gerakana TPQ.
Karena hanya dengan ikhlas inilah guru TPQ akan bisa mendapatkan kesuksesan
dunia akhirat. Tidak cukup dengan ikhlas ketika menjalankan dakwah ini,
melainkan dengan semangat pula yang sesuai tema dalam acara tersebut. Karena
dengan semangat gerakan dakwah TPQ akan lebih istiqomah, professional dan bagus
lagi.
Diakhir acara, panitia mengadakan penggalangan dana untuk
saudara muslim yang ada di Syuriah dan Palestina. Dan ini penggalan dana dari
TPQ yang kedua dan akan dilanjutkan pada tanggal 21 April 2013 di Jl. Slamet
Riyadi bersama temen-temen Komunitas TPQ, ROHIS dan LDK (Lembaga Dakwah
Kampus).
Dari acara ini, panitia berharap guru-guru tpq yang ikut
dalam acara tersebut bisa lebih semangat dalam dakwah di gerakan TPQ. Dan
dengan modal semangat ini pula misi mencetak generasi qurani bisa terwujudkan.
Sabtu, 02 Februari 2013
Bunayya 5
Cinta dalam bahasa Arab disebut Al-Mahabbah yang berarti kasih
sayang. Menurut Abdullah Nashih Ulwan cinta adalah perasaan jiwa dan gejolak
hati yang mendorong seseorang mencintai kekasihnya dengan penuh gairah, lembut
dan kasih sayang. Cinta adalah fitrah manusia yang murni, yang tak dapat terpisahkan
dari kehidupannya.
Diantara tanda-tanda cinta ialah rasa kagum/simpatik, berharap,
takut, rela dan selalu ingat kepada yang dicintai. Seorang yang beriman sejak
memproklammirkan bahwa tiada ilah selain Allah dan beriltizam (komitmen)
sepenuh dayanya, maka Allah harus menempati posisi tertinggi cintanya. Semua
tanda-tanda cinta tersebut selayaknya diberikan kepada Allah. Berupa rasa kagum
terhadap kebesaran, keagungan dan kekuasaan Allah, mengharapkan cinta Allah,
rahmat, keridhaan dan keampunanNya (QS.39:53),rela dan menerima ketentuan Allah
sepenuhnya, takut kepada Allh, yang mrnghasilkan sikap menjauhkan diri dari
maksiat, serta selalu mengingat Allah (QS.2:152; 13:28; 63:9; 59:19).
Firman Allah : "Dan diantara manusia ada orang-orang yang
menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana
mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yanag beriman amat sangat cintanya kepada
Allah..." (QS.2:165) .......Nantikan uraian lengkapnya di majalah bunayya edisi ke 5
Senin, 28 Januari 2013
Gebrakan Baru Awal Tahun
“Selangkah lebih maju” barang kali kata itu yang pantas
untuk mengapresiasi BADKO TPQ KARTASURA terkhusus bidang Pendidikan dan
Pelatihan (DIKLAT), yang telah sukses menyelenggarakan sosialisasi kurikulum
untuk TPQ di kecamatan kartasura pada hari Ahad 27 januari 2013 kemarin.
Setelah
melalui proses yang sangat panjang, cita cita para pengurus BADKO Kartasura untuk
membuat sebuah kurikulum bersama sebagai salah satu upaya peningkatan kualitas
pendidikan Al qur’an di TPQ akhirnya membuahkan hasil.Dengan semangat yang luar
biasa Ust. Sunari sebagai ketua bidang diklat mensosialisasikan sekaligus
memberikan arahan bagaimana penerapan kurikulum yang telah disusun bersama tim
diklat itu sehingga bisa berjalan di TPQ. Dalam penjelasannya ust. Sunari juga
membahas beberapa permasalahan umum yang ada di TPQ yang kesemuanya itu
merupakan faktor faktor penghambat berkembangnya TPQ secara umum.
Tidak kalah
dengan pembicara, para pesertapun sangat antusias mengikuti semua rangkaian
acara sosialisasi kurikulum tesebut, berbagai masukan sekaligus harapan
mengalir dari para peserta, sehingga suasana kekeluargaan sangat terasa, semoga itu semua menjadi awal
dari terwujudnya mimpi kita bersama menjadikan kualitas Taman Pendidikan Al Qur’an
(TPQ) menjadi lebih baik.Senin, 31 Desember 2012
Ratusan santri TPQ mengikuti outbond
Mengakhiri program kerja tahun 2012 dan sekaligus mengawali program kerja tahun 2013, dipenghujung tahun 2012 atau tepatnya pada hari ahad 30 desember 2012, BADKO TPQ KARTASURA kembali menggelar acara silaturahmi dan perlombaan antar TPQ yang dikemas dalam sebuah acara "OUTBOND TPQ KARTASURA". Selain sebagai media adu kompetensi dari masing masing TPQ, acara ini dimaksudkan juga sebagai media menjalin ukhuwah antar santri TPQ maupun para pengasuh atau pengajarnya sebagaimana tema yang diangkat dalam acara ini adalah "Pererat Ukhuwah,Wujudkan Generasi Qur'ani".
Outbond TPQ kali ini mengambil setting tempat di sekitar desa gumpang kecamatan kartasura, lebih dari 550 santri mengikuti serangkaian games atau permainan yang terbagi menjadi 5 tempat atau 5 pos dengan masing masing titik penekanan antara lain kerjasama, kecerdasan, ketangkasan, pengorbanan.Nilai nilai itulah yang ingin ditanamkam kepada para santri dalam acara outbond kali ini.
Dengan penuh semangat para santri mengikuti serangkaian acara yang berlangsung dari mulai pukul 07:30 sampai dhuhur, yang disusul dengan pengumuman juara juara outbond baik putra maupun putri,ditengah guyuran hujan yang begitu lebat yang mengiringi saat saat pengumuman juara, para santri tetap semangat menantikan dan berharap mereka yang menjadi peserta terbaik(JUara) outbond kali ini.
Dari hasil rekap nilai yang dikumpulkan dimasing masing pos akhirnya 6 TPQ dinobatkan menjadi peserta terbaik.
Juara 1 putra : TPQ Al Muttaqin Gumpang
Juara 2 putra : TPQ Amanah Gonilan
Juara 3 Putra : TPQ Al Baroyah Singopuran
Juara 1 Putri : TPQ Mardhotillah Ngadirejo
Juara 2 Putri : TPQ Darul Hikmah Pabelan
Juara 3 Putri : TPQ At Taqwa Ngadirejo
(untuk melihat rekapitulasi nilai bisa di download disini)
Outbond TPQ kali ini mengambil setting tempat di sekitar desa gumpang kecamatan kartasura, lebih dari 550 santri mengikuti serangkaian games atau permainan yang terbagi menjadi 5 tempat atau 5 pos dengan masing masing titik penekanan antara lain kerjasama, kecerdasan, ketangkasan, pengorbanan.Nilai nilai itulah yang ingin ditanamkam kepada para santri dalam acara outbond kali ini.
Dengan penuh semangat para santri mengikuti serangkaian acara yang berlangsung dari mulai pukul 07:30 sampai dhuhur, yang disusul dengan pengumuman juara juara outbond baik putra maupun putri,ditengah guyuran hujan yang begitu lebat yang mengiringi saat saat pengumuman juara, para santri tetap semangat menantikan dan berharap mereka yang menjadi peserta terbaik(JUara) outbond kali ini.
Dari hasil rekap nilai yang dikumpulkan dimasing masing pos akhirnya 6 TPQ dinobatkan menjadi peserta terbaik.
Juara 1 putra : TPQ Al Muttaqin Gumpang
Juara 2 putra : TPQ Amanah Gonilan
Juara 3 Putra : TPQ Al Baroyah Singopuran
Juara 1 Putri : TPQ Mardhotillah Ngadirejo
Juara 2 Putri : TPQ Darul Hikmah Pabelan
Juara 3 Putri : TPQ At Taqwa Ngadirejo
(untuk melihat rekapitulasi nilai bisa di download disini)
Sabtu, 08 Desember 2012
Waktuku, Waktumu, Waktu Kita
Tidak
ada yang lebih berharga dalam kehidupan ini setelah iman selain “waktu”. Waktu
adalah benda yang paling berharga dalam kehidupan seorang muslim. Ia tidak
dapat ditukar oleh apapun. Waktu dalam islam adalah “kehidupan”, al-waqtu huwa al-hayah, demikian kata
As-Syahid Hasan Al-Banna. Demikian pula uswah kita Rasulullah SAW adalah
seorang yang sangat disiplin mengelola waktu. Keseharian beliau yang sangat
“padat acara” lantas tidak membuat semuanya menjadi terbengkalai. Sebaliknya,
semua berjalan baik. Itulah keunggulan Rasulullah SAW mengelola waktu dalam
memegang kendali pemerintahan, pendakwah, kepala rumah tangga, suami dari
istrinya, bapak bagi anak-anaknya, panglima perang, pengusaha, guru, imam
masjid, tempat mengadu dan mengeluhkan permasalahan dan sebagainya......
Dapatkan ulasan selengkapnya di Majalah Bunayya edisi ke 4,
Pemesanan Hub Hartanto 085742344392
Selasa, 09 Oktober 2012
Juara LOTISAN
Daftar Juara 1-3 dalam acara LOTISAN 2012 Se Solo Raya, yang diselenggarakan oleh LKG TPQ Solo Raya bekerjasama dengan EO Netral dan Badko TPQ Kartosuro
Rabu, 05 September 2012
Selasa, 21 Agustus 2012
Salah Memaknai Idul Fitri
Bagi kalangan tertentu, bulan Ramadhân yang penuh berkah ini merupakan bulan beban. Ibadah-ibadah di bulan Ramadhân terutama ibadah puasa dianggap sebagai penghambat kesempatan. Meskipun dia tetap menunaikan ibadah puasa, namun tidak dengan sepenuh hati.
Sementara kalangan yang lain menganggap, ibadah puasa di bulan Ramadhân merupakan rutinitas yang menjanjikan dan berakhir menyenangkan. Sebab sesudah Ramadhân ada hari raya, Idul Fitri.
Para pedagang, sejak jauh-jauh hari sebelum Ramadhân tiba, mereka sudah bersiap melakukan stock barang sebagai persiapan untuk meraup keuntungan melimpah di bulan suci ini. Bahkan banyak pedagang musiman yakni khusus bulan Ramadhân. Para karyawan, pegawai, pekerja, buruh dan lain-lain yang bekerja di luar kota pun punya harapan untuk cuti menjelang hari raya Muhasabah Bulan Syawal 2
Kalau Sudah Bersih, Kenapa Dikotori Lagi?...
Jika Ramadhan sudah pergi meninggalkan kita, maka ia telah menyampaikan berbagai pelajaran dan peringatan kepada hati orang-orang yang beriman. Bulan suci yang merupakan bongkahan dari usia kita, juga akan habis sebagaimana usia kita habis. Disaat-saat seperti itu akan ada banyak kaum yang menyesal, padahal bukan lagi w
TPQ Madinatul 'Ilmi Ngemplak Kartasura
Jika Ramadhan sudah pergi meninggalkan kita, maka ia telah menyampaikan berbagai pelajaran dan peringatan kepada hati orang-orang yang beriman. Bulan suci yang merupakan bongkahan dari usia kita, juga akan habis sebagaimana usia kita habis. Disaat-saat seperti itu akan ada banyak kaum yang menyesal, padahal bukan lagi w
aktunya untuk menyesal. Orang-orang yang berbahagia diakhir ramadhan atau diakhir usia adalah orang-orang yang mendapat ridha Allah.
Muhasabah Bulan Syawal
Salah satu indikator ketidakberhasilan ibadah ramadhan bisa kita lihat ketika kita masuk dibulan syawal ketika kita merayakan idul fitri yang oleh kebanyakan orang dinamakan dengan hari kemenangan,kemenangan karena kita telah bisa mengalahkan hawa nafsu kita,kemenangan karena kita telah memaksa diri kita untuk ta'at beribadah kepada Allah melalui serangkaian amalan amalan ramadhan yang merupakan madrasah tarbiyah bagi kaum muslimin.Ketika merayakan hari kemenangan kebanyakan kaum muslimin terbuai dengan
Minggu, 19 Agustus 2012
Minggu, 08 Juli 2012
AL-QUR’AN RUH KEBANGKITAN UMMAT
Generasi para sahabat Nabi disebut sebagai generasi manusia terbaik yang pernah terlahir di dunia ini sepanjang sejarah manusia (khaira ummatin ukhrijat linnas). Asy-syahid Sayyid Quthub dalam Ma’alim fi at-thariq, menjuluki generasi Muslimin itu sebagai “Al-Jiilul-Qur’any Al-Fariid”(generasi Qur’ani yang unik).
Dalam Al-Qur’an wa tafsiruhu disebutkanbahwa munculnya generasi seperti ini setidaknya karena tiga faktor utama yaitu: Pertama, materi Al-Qur’an yang membawa nilai-nilai yang luhur. Kedua, sosok Nabi Muhammad yang paripurna sebagai pembawa amanat ilahi. Ketiga, panduan dari Allah yang selalu menyertai Nabi Muhammad dalam berdakwah. Tiga hal pokok inilah yang menjadikan agama Islam berkembang dengan sangat pesat di seluruh pelosok negeri dalam waktu yang relatif sangat singkat dalam sejarah dakwah para nabi.
Selain ketiga faktor di atas, ada hal lain yang mendukung kemunculan generasi khaira ummah tersebut, yakni kesiapan jiwa para sahabat radhiyallahu anhum untuk selalu berinteraksi dengan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Inilah kunci kebangkitan mereka. Ini pula kunci kebangkitan kita pada saat ini. Saat ini yang harus kita lakukan adalah mengembalikan maknawiyah ummat—termasuk kita di dalamnya—agar mau berinteraksi dengan Al-Qur’an sebagaimana generasi sahabat.
Ada tiga karakteristik generasi sahabat dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an.Pertama, menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber utama (al-Qur’an manba-un wahiid).
Generasi sahabat mempersepsikan Al-Qur’an sebagai satu-satunya sumber dan landasan kehidupan. Adapun hadits adalah tafsir operasional dari sumber utama itu. Mereka mengenal peradaban Romawi, Yunani, Persia, India, dan China yang tercatat sebagai kebudayaan yang maju waktu itu. Bahkan peradaban Romawi dan Persia mendominasi Jazirah Arab dari utara dan selatan. Tetapi yang menjadi sumber dan acuan generasi sahabat hanyalah Al-Qur’an. Sehingga akal, wawasan, ideologi, dan orientasi mereka terbebas dari pengaruh luar yang tidak sesuai dengan manhaj Al-Qur’an.
Sementara generasi berikutnya telah mengalami pembauran sistem dan telah terkontaminasi berbagai polutan dalam memahami sumber utama. Seperti filsafat dan logika Yunani yang banyak mencemari pemikiran pemikir Islam, israiliyat Yahudi dan teologi Nasrani, serta berbagai kebudayaan dan peradaban asing, yang turut mencampuri penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an, sehingga mengurangi kadar kejernihan pemikiran generasi berikutnya dalam memahami Al-Qur’an.
Kedua, menerima Al-Qur’an untuk diamalkan (manhaj at-talaqqi).
Para sahabat menerima perintah dari Allah persis seperti seorang prajurit menerima perintah dari komandannya. Al-Qur’an diterima untuk diterapkan secara langsung dalam kehidupan pribadi dan masyarakat. Bukan ditujukan untuk menyingkap rahasia alam, sains, atau pengayaan materi-materi ilmiah. Karena Al-Qur’an bukan buku seni, sains, atau sejarah, sekalipun semuanya terkandung di dalamnya. Sesungguhnya ia diturunkan sebagai pedoman hidup (minhajul hayah).
Ketiga, Isolasi (mufashalah) dari persepsi lama.
Selain menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber utama—yakni dengan membebaskan akal, wawasan, ideologi, dan orientasi dari pengaruh luar—para sahabat pun membersihkan jiwanya dari noda dan kotoran masa lalu di masa jahiliyyah dengan petunjuk Al-Qur’an. Mereka memulai hidup baru yang sama sekali berbeda dengan masa lalunya. Interaksinya dengan Al-Qur’an telah merubah total lingkungan, kebiasaan, adat, wawasan, ideologi, serta pergaulannya.
Ketiga karakteristik inilah yang tidak dimiliki oleh generasi berikutnya, sehingga tidak bertahannya nilai-nilai ke-Islam-an yang utuh dalam persepsi dan mata hati mereka. Dr Muhammad Al Ghazali berkata, “Generasi pertama terangkat kemuliaannya karena menempatkan Alquran di atas segala-galanya. Sedangkan generasi sekarang jatuh kemuliaannya karena menempatkan Alquran di bawah nafsu dan kehendak dirinya”.
Fenomena Hari Ini
DR. Yusuf Qaradawi dalam salah satu ceramahnya mengungkapkan bahwa saat ini kondisi ummat Islam tidak tepat dalam bersikap terhadap Al-Qur’an. Mereka menjadikan Al Qur’an terlupakan, mereka menghapal huruf-hurufnya, namun tidak memperhatikan ajaran-ajarannya. Mereka tidak mampu berinteraksi secara benar dengannya, tidak memprioritaskan apa yang menjadi prioritas Al Qur’an, tidak menganggap besar apa yang dinilai besar oleh Al Qur’an serta tidak menganggap kecil apa yang dinilai kecil oleh Al Qur’an. Di antara mereka ada yang beriman dengan sebagiannya, namun kafir dengan sebagiannya lagi, seperti yang dilakukan oleh Bani Israel sebelum mereka terhadap kitab suci mereka. Mereka tidak mampu berinteraksi secara baik dengan Al Qur’an, seperti yang dikehendaki oleh Allah SWT. Meskipun mereka mengambil berkah dengan membawanya serta menghias dinding-dinding rumah mereka dengan ayat-ayat Al Qur’an, namun mereka lupa bahwa keberkahan itu terdapat dalam mengikut dan menjalankan hukum-hukumnya. Seperti difirmankan oleh Allah SWT:
“Dan Al Qur’an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat.” (QS. Al An’aam, 6: 155).
Saat ini ummat Islam baru menunaikan kewajibannya terhadap Al-Qur’an sebatas penjagaan dan pemeliharaan saja. Ummat Islam juga menaruh perhatian yang sangat besar dalam mengajarkan Al-Qur’an agar dibaca dan dihafalkan oleh anak-anak mereka. Apa yang mereka lakukan itu memang sudah merupakan pekerjaan besar. Namun belumlah cukup jika hanya berhenti sampai pada titik itu saja.
Membaca dan mendengar Al-Qur’an dengan Tadabbur
Merenungi (tadabbur) Al-Qur’an merupakan keharusan baik ketika membaca atau saat mendengarkannya. Itulah yang dulu diperbuat oleh para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka senantiasa membaca (tilawah) Al-Qur’an, merenungkan dan mengamalkannya. Mereka tidak beranjak dari satu ayat ke ayat lainnya, dari satu surat ke surat yang lainnya, kecuali setelah mereka benar-benar memahami dan mengamalkannya.
عَنْ أَبِى عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ حَدَّثَنَا مَنْ كَانَ يُقْرِئُنَا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُمْ كَانُوا يَقْتَرِئُونَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَشَرَ آيَاتٍ فَلاَ يَأْخُذُونَ فِى الْعَشْرِ الأُخْرَى حَتَّى يَعْلَمُوا مَا فِى هَذِهِ مِنَ الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ. قَالُوا فَعَلِمْنَا الْعِلْمَ وَالْعَمَلَ. (أحمد)
Riwayat dari Abi Abdul Rahman as-Sulamiy (seorang tabi’in), ia berkata, “Telah menceritakan kepada kami orang yang dulu membacakan kepada kami yaitu sahabat-sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa mereka dulu mendapatkan bacaan (Al-Qur’an) dari Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sepuluh ayat, mereka tidak mengambil sepuluh ayat yang lainnya sehingga mereka mengerti apa yang ada di dalamnya yaitu ilmu dan amal. Mereka berkata, ‘Maka kami mengerti ilmu dan amal.’” (Hadits Riwayat Ahmad nomor 24197, dan Ibnu Abi Syaibah nomor 29929)
Oleh karena itu, para ulama pada masa lalu dijuluki dengan julukan Al-Qurra’ (orang yang banyak membaca Al-Qur’an). Arti membaca (qira’ah, tilawah) bukanlah sekedar membaca tanpa memahami maksud dan maknanya, sebagaimana banyak terjadi pada masa-masa sekarang ini. Akan tetapi Al-Qari’ (pembaca) adalah identik dengan Al-‘Alim (orang yang mengetahui). Dan Al-Qurra’ berarti para ulama dan para pakar hukum Islam.
Begitupula mendengarkan Al-Qur’an bukanlah sekedar mendengar atau hanya menikmati keindahan lagu dan suara merdu pembacanya. Akan tetapi mendengar disini harus disertai dengan merenungkan arti dan maksudnya.
Bagaimanakah kondisi manusia pada masa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam saat mendengar Al-Qur’an?
Allah SWT berfirman,
“Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Quran) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Quran dan kenabian Muhammad s.a.w.).” (QS. Al-Maidah, 5: 83).
“Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: ‘Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi. Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu‘.” (QS. Al-Isra’, 17: 107 – 109).
“Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat- ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang- orang yang tuli dan buta.” (QS. Al-Furqan, 25: 73)
“…dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (QS. Al-Anfaal, 8: 2).
Begitulah mereka saat mendengar bacaan Al-Qur’an; mencucurkan air mata, menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, menangis dan bertambah khusyu, mendengar dengan penuh kesungguhan, sehingga bertambahlah iman mereka.
Bagaimanakah dengan kita?
Harus kita akui, cukup banyak di antara kita orang-orang yang apabila dibacakan Al-Qur’an, hatta yang mengandung ancaman-ancaman yang dahsyat, malah bersikap acuh-tak acuh; tidak terpengaruh, seolah-olah tidak mendengar sesuatu yang luar biasa.
Yusuf Qaradawi mengatakan bahwa kondisi ummat Islam yang tidak sesuai dengan tuntutan Al-Qur’an tersebut, sangat difahami dengan baik oleh musuh-musuh Islam. Sehingga mereka tidak risau untuk menyiarkan bacaan Al-Qur’an di berbagai pemancar radio mereka.
Radio zionis Israel tidak segan-segan menyiarkan bacaan Al-Qur’an, demikian juga Radio London, dan Suara Amerika. Seolah-olah mereka yakin bahwa Al-Qur’an tidak akan berpengaruh sedikit pun kepada kita.
Padahal pada masa lalu, ketika Al-Qur’an dibacakan kepada orang-orang Arab, ia mampu menggoncangkan dan merubah peradaban secara total. Orang-orang musyrik sangat takut terhadap Al-Qur’an walaupun hanya dibaca. Mereka menghalangi anak-anak dan wanita-wanita mereka agar tidak mendengar Al-Qur’an.
“Dan orang-orang yang kafir berkata: ‘Janganlah kamu mendengar Al Quran ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan mereka’.(QS. Fushilat, 41: 26).
Berinteraksilah dengan Al-Qur’an, Islam pasti jaya!
“Selama kaum Muslimin masih memegang Al-Qur’an di tangan mereka, maka Eropa tidak akan mampu mencengkramkan kekuasaannya di negeri-negeri Timur!”
Kalimat ini diungkapkan pada abad 18 oleh William Gladstone, PM Inggris zaman Ratu Victoria. Dari kata-katanya yang penuh kedengkian ini kita dapat memahami bahwa kekuatan kaum Muslimin sesungguhnya terletak pada sejauh mana komitmennya terhadap Al-Qur’an. Inilah kekuatan dahsyat yang menjadi kunci kebangkitan dan kejayaan mereka. Inilah kunci menuju kemenangan dan kemuliaan mereka. Sejarah telah berbicara sebagai fakta abadi; bahwa ummat ini dapat memperoleh izzahnya dengan Al-Qur’an. Dan merekapun Allah kerdilkan karena meninggalkan Al-Qur’an.
Renungkanlah sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berikut:
اِنَّ اللّهَ يَرْفَعُ بِهَاذَاالكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ آخَرِيْنَ (مسلم)
“Sesungguhnya Allah, dengan kitab ini (Al-Qur’an) meninggikan derajat kaum-kaum dan menjatuhkan derajat kaum yang lain.” (HR. Muslim).
Maksud hadits ini menurut DR. Muhammad Faiz Almath, “Barangsiapa yang berpedoman dan mengamalkan isi Al-Qur’an, maka Allah akan meninggikan derajatnya, tapi barangsiapa yang tidak beriman kepada Al-Qur’an, maka Allah akan menghinakannya dan merendahkan derajatnya.”
Oleh karena itu mereka yang rindu pada kebangkitan ummat Islam, harus segera membuka katup jiwanya dan memenuhinya dengan kesejukan Al-Qur’an. Biarlah ia mengalir mengisi relung-relung jiwa, menyegarkan iman, membersihkan pikiran, dan membuahkan amal. Mereka harus mengiringi langkah-langkahnya dengan kekuatan kalamullah, sebagaimana generasi pertama mereka memulai langkah-langkahnya dengan kekuatan itu.
Ingatlah kata-kata bijak Imam Malik, “Umat ini tidak akan jaya kecuali dengan cara pertama kali ia dijayakan genarasi awalnya.”
Tidak ada jalan untuk membangkitkan umat dari kelemahan dan ketertinggalan mereka selain dari kembali kepada Al Qur’an ini. Dengan menjadikannya sebagai panutan dan imam yang diikuti. Dan cukuplah Al Qur’an sebagai petunjuk:
“Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?.” (QS. An Nisaa, 4: 122)
Maraji’:
Al-Qur’an wa tafsiruhu, Kementerian Agama RI
Berinteraksi dengan Al Qur’an, Dr. Yusuf al Qaradhawi
http://hidayatullah.or.id/in/sistematika-wahyu-dokumen-online-88/56-profil-generasi-qurani/79-profil-generasi-qurani.html?showall=1
Gambaran Terjaganya Kemurnian Islam, Hartono Ahmad Jaiz
1100 Hadits Terpilih, DR. Muhammad Faiz Almath
Langganan:
Postingan (Atom)















