Senin, 28 Oktober 2013

IKHLAS BERKORBAN DEMI TPA

Oleh : Main Sufanti
Pengasuh TPA AL-Hidayah Karang Tengah Ngadirejo Kartasura
Dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta

            Allah berfirman dalam Q.S  At-Tahriim:6 yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka….” .  Begitu pula, hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah Saw. Bersabda: “Jika manusia telah meninggal dunia maka putuslah amalnya kecuali tiga hal, yakni shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakan kedua orang tuanya”.  Ayat dan hadits tersebut memberikan penjelasan kepada kita bahwa mempunyai anak yang shalih dan shalihah adalah dambaan sekaligus tanggung jawab bagi setiap orang tua.  Keberhasilan seseorang dalam mendidik anak sehingga menjadi anak yang sholih dan sholikhah  merupakan keberhasilan seseorang dalam memelihara keluarganya dari api neraka. Selain itu, anak yang sholih dan sholikhah merupakan  salah satu amal yang kebaikannya tidak terputus, walaupun seseorang telah meninggal.
Pendidikan menjadi salah satu media yang dipercaya bisa menempa perkembangan anak, baik kecerdasan otak maupun kecerdasan spiritual, sehingga menjadi anak yang sholih dan sholikhah. Pendidikan ini merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat, dan pemerintah. Oleh karena itu, kita mengenal pendidikan formal, nonformal, dan informal.
 Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) merupakan salah satu lembaga pendidikan nonformal yang perlu mendapat perhatian dari berbagai pihak. Lembaga ini tidak sekadar mendidik anak bisa membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar, tetapi juga mengembangkan pendidikan agar anak dapat menjalani hidup secara islami.  Jika anak dapat menerapkan kehidupan sehari-hari secara islami, itulah anak yang sholih dan sholikhah.

Sabtu, 05 Oktober 2013

Pelatihan BADKO TPQ Kartasura

Ikutilah....
TRAINING " Menjadi Ustadz & Ustadzah di Cintai Santri"

Oleh : KAK WUNTAT ( Trainer Dongeng Nasional )

Hari/ Tanggal : Ahad/ 27 Oktober 2013
Jam : 08.00 s/d Selesai
Tempat : Masjid Al Bukhori ( IAIN Surakarta )

Kontribusi Rp. 5.000,-

Fasilitas : Snack, Sertifikat, Majalah & Ilmu
Pendaftaran Via SMS Ketik Training ; Nama TPQ/Instansi ; Jumlah Delegasi
CONTOH Training ; TPQ Ustman Bin Affan Gonilan ; 10
Kirim ke 085742344392

Rabu, 17 Juli 2013

Mensyukuri Nikmat dan Menikmati Syukur Menjadi Guru TPQ

Oleh : Faqih Annisa

TPQ (Taman Pendidikan al-Qur’an) adalah salah satu organisasi yang banyak menjamur di masyarakat sebagai bentuk kepedulian terhadap pendidikan agama islam pada anak-anak. Kelahirannya sangat diharapkan. Tetapi sedikit yang memperhatikan dan mencurahkan pikiran untuk mengelolanya dengan baik.
Apakah antum seorang guru? Guru ngaji? Luruskan niat antum wa antunna bahwasannya TPQ hanya untuk mencari ridho Allah. Kalau antum melenceng dari niat ini, maka TPQ sia-sia saja sebagai ladang dakwah. Jangan jadikan materi dunia sebagai tujuan utama. Karena itu akan mengecewakan antum dan menghapus semua amal-amal kebaikan. Tentunya yang menjadi tujuan utama adalah menyiapkan anak didik menjadi generasi muslim yang bisa membaca Al-Qur’an, mencintainya, komitmen terhadapnya dan menjadikannya sebagai pandangan hidupnya. Pada dasarnya, peran antum sebagai pendidik di TPQ inilah tugas atau amanah yang memang harus diemban dengan totalitas dan sepenuh hati. Pun pengorbanan yang tak setengah-setengah.
Berangkat dari TPQ inilah yang menjadi wadah untuk meluruskan aqidah dan tauhid. Di tengah maraknya isu-isu yang sedang gempar digembar-gemborkan yakni maraknya perbuatan maksiat, bid’ah, baik perbuatan maupun keyakinan, serta perbuatan orang-orang yang sesat bertebaran di sekitar kita. Mulai dari lahirnya aliran-aliran nyeleneh yang membawa nama Islam, hingga muncul orang-orang yang mengaku sebagai Nabi, Rasul, Jibril bahkan mengaku Tuhan. Lebih arogan lagi yang notabenenya orang yang sangat disegani mengaku bisa mewujudkan apapun yang diinginkan para pengikutnya yang berjumlah puluhan bahkan ratusan. Di antara orang-orang yang terpengaruh aliran sesat tersebut, ada juga yang berpendidikan dan telah mengenal agama Islam. Hal ini sangatlah memprihatinkan bagi kita sebagai guru TPQ yang tentunya perlu meluruskan pemahaman yang sekiranya menyimpang dari aturan syari’at islam yang haqiqi.
Dari sekian banyak nikmat yang dianugerahkan oleh Allah kepada umat islam, Islam adalah anugerah yang paling agung. Karena, Islam bukan hanya menuntun manusia pada jalan keselamatan ukhrowi, tapi juga membawa rahmatan lil a’lamin. Tatacara kehidupan manusia diatur sedemikian rupa, dari yang paling berat sampai urusan makan dan membasuh tangan. Islam juga memberikan pandangan yang berbeda terhadap kehidupan manusia dan membedakan dirinya dari hewan ternak yang dipelihara untuk bekerja.
Selain itu, masih banyak nikmat-nikmat lainnya yang tak ada satu pun bisa menghitungnya, kecuali Dzat Yang Maha Mengetahui. Sebagaimana firmannya:
 

NIKMATNYA BELAJAR DAN MENGAJARKAN AL-QURAN

Main Sufanti
Pengelola TPA Al-Hidayah Karang Tengah
Dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta
           
Umar bin Affan r.a berkata, Rosulullah s.a.w bersabda: “Sebaik-baik kamu  yaitu orang yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya” (Nawawi et all,1987:123). Hadits yang diriwayatkan Buchory ini menjelaskan bahwa orang yang mau belajar dan mengajarkan Al-Quran adalah orang yang terbaik diantara orang-orang lain. Begitu baiknya, orang mukmin yang bisa membaca Al-Quran diumpamakan oleh Rosulullah bagaikan buah limau yang baunya harum dan rasanya lezat.  Sebaliknya, Rosulullah juga  memberi perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al-Quran bagaikan buah handhol yang tidak berbau dan rasanya pahit (Nawawi et all,1987:124).
Belajar Al-Quran dan mengajarkan Al-Quran adalah kewajiban setiap muslim. Belajar Al-Quran bisa berupa belajar membaca huruf Al-Quran, belajar menulis, belajar menghafal, belajar memahami makna, sampai pada belajar mengamalkan isi Al-Quran  dalam kehidupan sehari-hari. Belajar bisa dilakukan secara mandiri juga bisa dilakukan dengan bantuan orang lain. Proses membantu orang lain  dalam belajar Al-Quran inilah yang disebut mengajarkan Al-Quran.

Taman Pendidikan Al-Quran
Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) merupakan lembaga  pendidikan nonformal yang bertujuan membentuk generasi Islam yang betul-betul dapat membaca Al-Quran, memahami Al-Quran, dan mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Lembaga ini biasanya mendidik anak-anak usia 4 – 12 tahun.  Namun, pada perkembangannya  ada juga TPA yang menyelenggarakan pembelajaran untuk remaja bahkan dewasa.
Taman Pendidikan Al-Quran, baik yang dikenal dengan nama TKA, TKQ, TPA, TPQ, TQA  dan bentuk lain yang sejenis  telah tersebar luas di tanah air. Dr. Undang Sumantri (dalam Budiyanti,2011),  staf ahli di Direktorat PD Pontren Departemen Agama RI, pada tanggal 9 Januari 2007 menginformasikan bahwa jumlah TKQ tercatat di Departemen Agama ada 15.756 unit dan TPQ-nya ada 111.685 unit sehingga totalnya ada 127.441 unit. Adapun jumlah ustadz sebanyak 544.411 orang.  Jumlah santri TKQ ada 913.981 anak dan  TPQ ada 6.812.303  sehingga jumlah totalnya 7.726.284 anak.  Ini prestasi yang luar biasa.

Jumat, 17 Mei 2013

Anak Indonesia dan Moralitas Bangsa yang Hilang

Oleh : Miarti
Jika kita mencoba mengukur beban anak zaman sekarang dan anak zaman dahulu, barangkali anak zaman sekarang jauh lebih berbeban. Mulai dari dampak kemudahan teknologi yang cukup sulit untuk diredam, permasalahan moral yang terus mengemuka, serta banyaknya perilaku aneh yang mengakibatkan tipisnya pengertian apakah seseorang bisa dikatakan manusia atau bukan.
Selain itu, rangkaian masalah di negeri ini seolah tiada akhir. Korupsi yang tak berkesudahan, pengangguran dimana-mana, kemiskinan yang merajalela, keadilan yang tak juga mengejawantah, penderitaan para TKI yang tak tertuntaskan, penganiayaan terhadap anak kandung, penjualan anak di bawah umur, banyaknya mavia peradilan alias markus, perilaku bohemian orang-orang berduit, kasus narkoba hingga kematian yang diakibatkan karena menenggak minuman oplosan, berita heboh video mesum mirip artis, serta kasus bunuh diri yang dilakukan oleh seorang anak.
Rangkaian potret buram bangsa kita secara tidak langsung menjadi fatamorgana memilukan bagi kelangsungan hidup anak-anak. Banyak hal yang seharusnya sangat tidak boleh untuk mereka dengar dan mereka lihat, namun ternyata bisa mereka dapatkan dengan sangat mudah. Padahal sejatinya, seorang anak dengan segala genuinitas yang dimilikinya, memiliki kemampuan yang luar biasa untuk menangkap dan merekam berbagai objek. Sehingga dengan sangat mudahnya mereka mempelajari sesuatu bahkan tanpa kita ajari secara langsung sekalipun.

Kamis, 25 April 2013

MILAD KE XI TPQ AL IKHLAS MAKAMHAJI

Ada sesuatu yang berbeda sore itu di TPQ Al Ikhlas Makamhaji, ya..karena sore itu seluruh pengurus dan santri sedang mengadakan acara Milad TPQ yang ke XI sekaligus pembukaan training pra tashih metode pembelajaran al qur’an  dengan metode Qiro’ati.
Acara sedehana yang digelar didepan mushola Al Ikhlas dan sekaligus gedung belajar TPQ Al Ikhlas yang beralamatkan di perum. Yarsis Bangsren Makamhaji itu berlangsung dengan meriah. Pada kesempatan itu ditampilkan parade santri TPQ Al Ikhlas mulai dari santri jilid 1 sampai jilid 6. Diakhir acara ditampilkan pula drama santri  yang mengangkat tentang surat Al Maun. Drama tersebut mengisahkan tentang perilaku yang salah dari 2 orang anak yang tidak menghargai seorang pengemis, namun akhirnya datang seorang anak sholeh yang memberi nasehat kepada anak anak itu untuk berlaku baik dengan pengemis.Akhir drama ditutup dengan sebiuah lagu dari bimbo tentang anjuran untuk menyayangi anak yatim dan fakir miskin dan juga sebuah puisi yang dibawakan seorag santri TPQ Al ikhlas. Drama tersebut menjadi menarik ketika dengan kepolosannya santri santri itu kebingungan karena lupa dialaog dan alur ceritanya..namanya juga anak anak.



Drama Santri 
Pembacaan Puisi


Jumat, 12 April 2013

Guru TPQ Nyalakan Semangatmu

Guru TPQ Nyalakan Semangatmu adalah tema yang diambil oleh panitia dari Lembaga Koordinasi Gerakan Taman Pendidikan Al-Quran (LKG TPQ Solo Raya) dalam acara Seminar Motivasi Guru TPQ. Acara diselenggarakan pada hari Ahad 7 April 2013 di Masjid Ibadurrohman Pabelan, Kartosuro. Dalam kesempatan ini, LKG TPQ Solo Raya mendatangkan nara sumber yang luar biasa dan sekaligus Guru Besar dari Kak Bimo dan Kak Wuntat (Master Dongeng –Trainer Nasional), beliau bernama Kak Zainal Fanani.  Kak Zainal adalah orang yang telah sukses mendidik Kak Bimo dan Kak Wuntat menjadi Pendongeng dan Trainer Nasional  dan di dunia TPQ sudah tidak asing lagi di telinga para guru tpq dan santri tpq di Indonesia ini.
Dalam seminar ini Kak Zainal sangat bersemngat sekali dalam menyampaikan materi kepada para peserta. Salah satu pesan Kak Zainal kepada para peserta untuk selalu ikhlas dalam menjalankan dakwah di gerakana TPQ. Karena hanya dengan ikhlas inilah guru TPQ akan bisa mendapatkan kesuksesan dunia akhirat. Tidak cukup dengan ikhlas ketika menjalankan dakwah ini, melainkan dengan semangat pula yang sesuai tema dalam acara tersebut. Karena dengan semangat gerakan dakwah TPQ akan lebih istiqomah, professional dan bagus lagi.
Diakhir acara, panitia mengadakan penggalangan dana untuk saudara muslim yang ada di Syuriah dan Palestina. Dan ini penggalan dana dari TPQ yang kedua dan akan dilanjutkan pada tanggal 21 April 2013 di Jl. Slamet Riyadi bersama temen-temen Komunitas TPQ, ROHIS dan LDK (Lembaga Dakwah Kampus).
Dari acara ini, panitia berharap guru-guru tpq yang ikut dalam acara tersebut bisa lebih semangat dalam dakwah di gerakan TPQ. Dan dengan modal semangat ini pula misi mencetak generasi qurani bisa terwujudkan.

Sabtu, 02 Februari 2013

Bunayya 5

Cinta dalam bahasa Arab disebut Al-Mahabbah yang berarti kasih sayang. Menurut Abdullah Nashih Ulwan cinta adalah perasaan jiwa dan gejolak hati yang mendorong seseorang mencintai kekasihnya dengan penuh gairah, lembut dan kasih sayang. Cinta adalah fitrah manusia yang murni, yang tak dapat terpisahkan dari kehidupannya.
Diantara tanda-tanda cinta ialah rasa kagum/simpatik, berharap, takut, rela dan selalu ingat kepada yang dicintai. Seorang yang beriman sejak memproklammirkan bahwa tiada ilah selain Allah dan beriltizam (komitmen) sepenuh dayanya, maka Allah harus menempati posisi tertinggi cintanya. Semua tanda-tanda cinta tersebut selayaknya diberikan kepada Allah. Berupa rasa kagum terhadap kebesaran, keagungan dan kekuasaan Allah, mengharapkan cinta Allah, rahmat, keridhaan dan keampunanNya (QS.39:53),rela dan menerima ketentuan Allah sepenuhnya, takut kepada Allh, yang mrnghasilkan sikap menjauhkan diri dari maksiat, serta selalu mengingat Allah (QS.2:152; 13:28; 63:9; 59:19).
Firman Allah : "Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yanag beriman amat sangat cintanya kepada Allah..." (QS.2:165) .......Nantikan uraian lengkapnya di majalah bunayya edisi ke 5

Senin, 28 Januari 2013

Gebrakan Baru Awal Tahun

“Selangkah lebih maju” barang kali kata itu yang pantas untuk mengapresiasi BADKO TPQ KARTASURA terkhusus bidang Pendidikan dan Pelatihan (DIKLAT), yang telah sukses menyelenggarakan sosialisasi kurikulum untuk TPQ di kecamatan kartasura pada hari Ahad 27 januari 2013 kemarin.
Setelah melalui proses yang sangat panjang, cita cita para pengurus BADKO Kartasura untuk membuat sebuah kurikulum bersama sebagai salah satu upaya peningkatan kualitas pendidikan Al qur’an di TPQ akhirnya membuahkan hasil.Dengan semangat yang luar biasa Ust. Sunari sebagai ketua bidang diklat mensosialisasikan sekaligus memberikan arahan bagaimana penerapan kurikulum yang telah disusun bersama tim diklat itu sehingga bisa berjalan di TPQ. Dalam penjelasannya ust. Sunari juga membahas beberapa permasalahan umum yang ada di TPQ yang kesemuanya itu merupakan faktor faktor penghambat berkembangnya TPQ secara umum. 



Tidak kalah dengan pembicara, para pesertapun sangat antusias mengikuti semua rangkaian acara sosialisasi kurikulum tesebut, berbagai masukan sekaligus harapan mengalir dari para peserta, sehingga suasana kekeluargaan  sangat terasa, semoga itu semua menjadi awal dari terwujudnya mimpi kita bersama menjadikan kualitas Taman Pendidikan Al Qur’an (TPQ) menjadi lebih baik.

Senin, 31 Desember 2012

Ratusan santri TPQ mengikuti outbond

Mengakhiri program kerja tahun 2012 dan sekaligus mengawali program kerja tahun 2013, dipenghujung tahun 2012 atau tepatnya pada hari ahad 30 desember 2012, BADKO TPQ KARTASURA kembali menggelar acara silaturahmi dan perlombaan antar TPQ yang dikemas dalam sebuah acara "OUTBOND TPQ KARTASURA". Selain sebagai media adu kompetensi dari masing masing TPQ, acara ini dimaksudkan juga sebagai media menjalin ukhuwah antar santri TPQ maupun para pengasuh atau pengajarnya sebagaimana tema yang diangkat dalam acara ini adalah "Pererat Ukhuwah,Wujudkan Generasi Qur'ani".
Outbond TPQ kali ini mengambil setting tempat di sekitar desa gumpang kecamatan kartasura, lebih dari 550 santri mengikuti serangkaian games atau permainan yang terbagi menjadi 5 tempat atau 5 pos dengan masing masing titik penekanan antara lain kerjasama, kecerdasan, ketangkasan, pengorbanan.Nilai nilai itulah yang ingin ditanamkam kepada para santri dalam acara outbond kali ini.
Dengan penuh semangat para santri mengikuti serangkaian acara yang berlangsung dari mulai pukul 07:30 sampai dhuhur, yang disusul dengan pengumuman juara juara outbond baik putra maupun putri,ditengah guyuran hujan yang begitu lebat yang mengiringi saat saat pengumuman juara, para santri tetap semangat menantikan dan berharap mereka yang menjadi peserta terbaik(JUara) outbond kali ini.
Dari hasil rekap nilai yang dikumpulkan  dimasing masing pos akhirnya 6 TPQ dinobatkan menjadi peserta terbaik.

Juara 1 putra : TPQ Al Muttaqin Gumpang
Juara 2 putra : TPQ Amanah Gonilan
Juara 3 Putra : TPQ Al Baroyah Singopuran

Juara 1 Putri : TPQ Mardhotillah Ngadirejo
Juara 2 Putri : TPQ Darul Hikmah Pabelan
Juara 3 Putri : TPQ At Taqwa Ngadirejo

(untuk melihat rekapitulasi nilai bisa di download disini)

Sabtu, 08 Desember 2012

Waktuku, Waktumu, Waktu Kita

Tidak ada yang lebih berharga dalam kehidupan ini setelah iman selain “waktu”. Waktu adalah benda yang paling berharga dalam kehidupan seorang muslim. Ia tidak dapat ditukar oleh apapun. Waktu dalam islam adalah “kehidupan”, al-waqtu huwa al-hayah, demikian kata As-Syahid Hasan Al-Banna. Demikian pula uswah kita Rasulullah SAW adalah seorang yang sangat disiplin mengelola waktu. Keseharian beliau yang sangat “padat acara” lantas tidak membuat semuanya menjadi terbengkalai. Sebaliknya, semua berjalan baik. Itulah keunggulan Rasulullah SAW mengelola waktu dalam memegang kendali pemerintahan, pendakwah, kepala rumah tangga, suami dari istrinya, bapak bagi anak-anaknya, panglima perang, pengusaha, guru, imam masjid, tempat mengadu dan mengeluhkan permasalahan dan sebagainya......

Dapatkan ulasan selengkapnya di Majalah Bunayya edisi ke 4,
Pemesanan Hub Hartanto 085742344392

Selasa, 09 Oktober 2012

Juara LOTISAN

Daftar Juara 1-3 dalam acara LOTISAN 2012 Se Solo Raya, yang diselenggarakan oleh LKG TPQ Solo Raya bekerjasama dengan EO Netral dan Badko TPQ Kartosuro

Selasa, 21 Agustus 2012

Salah Memaknai Idul Fitri

Bagi kalangan tertentu, bulan Ramadhân yang penuh berkah ini merupakan bulan beban. Ibadah-ibadah di bulan Ramadhân terutama ibadah puasa dianggap sebagai penghambat kesempatan. Meskipun dia tetap menunaikan ibadah puasa, namun tidak dengan sepenuh hati. Sementara kalangan yang lain menganggap, ibadah puasa di bulan Ramadhân merupakan rutinitas yang menjanjikan dan berakhir menyenangkan. Sebab sesudah Ramadhân ada hari raya, Idul Fitri. Para pedagang, sejak jauh-jauh hari sebelum Ramadhân tiba, mereka sudah bersiap melakukan stock barang sebagai persiapan untuk meraup keuntungan melimpah di bulan suci ini. Bahkan banyak pedagang musiman yakni khusus bulan Ramadhân. Para karyawan, pegawai, pekerja, buruh dan lain-lain yang bekerja di luar kota pun punya harapan untuk cuti menjelang hari raya

Muhasabah Bulan Syawal 2

Kalau Sudah Bersih, Kenapa Dikotori Lagi?...
Oleh : ustadzah Dwi Sariningsih
TPQ Madinatul 'Ilmi Ngemplak Kartasura

J
ika Ramadhan sudah pergi meninggalkan kita, maka ia telah menyampaikan berbagai pelajaran dan peringatan kepada hati orang-orang yang beriman. Bulan suci yang merupakan bongkahan dari usia kita, juga akan habis sebagaimana usia kita habis. Disaat-saat seperti itu akan ada banyak kaum yang menyesal, padahal bukan lagi w
aktunya untuk menyesal. Orang-orang yang berbahagia diakhir ramadhan atau diakhir usia adalah orang-orang yang mendapat ridha Allah.

Muhasabah Bulan Syawal

Salah satu indikator ketidakberhasilan ibadah ramadhan bisa kita lihat ketika kita masuk dibulan syawal ketika kita merayakan idul fitri yang oleh kebanyakan orang dinamakan dengan hari kemenangan,kemenangan karena kita telah bisa mengalahkan hawa nafsu kita,kemenangan karena kita telah memaksa diri kita untuk ta'at beribadah kepada Allah melalui serangkaian amalan amalan ramadhan yang merupakan madrasah tarbiyah bagi kaum muslimin.Ketika merayakan hari kemenangan kebanyakan kaum muslimin terbuai dengan

Minggu, 08 Juli 2012

AL-QUR’AN RUH KEBANGKITAN UMMAT

Generasi para sahabat Nabi disebut sebagai generasi manusia terbaik yang pernah terlahir di dunia ini sepanjang sejarah manusia (khaira ummatin ukhrijat linnas). Asy-syahid Sayyid Quthub dalam Ma’alim fi at-thariq, menjuluki generasi Muslimin itu sebagai “Al-Jiilul-Qur’any Al-Fariid”(generasi Qur’ani yang unik). Dalam Al-Qur’an wa tafsiruhu disebutkanbahwa munculnya generasi seperti ini setidaknya karena tiga faktor utama yaitu: Pertama, materi Al-Qur’an yang membawa nilai-nilai yang luhur. Kedua, sosok Nabi Muhammad yang paripurna sebagai pembawa amanat ilahi. Ketiga, panduan dari Allah yang selalu menyertai Nabi Muhammad dalam berdakwah. Tiga hal pokok inilah yang menjadikan agama Islam berkembang dengan sangat pesat di seluruh pelosok negeri dalam waktu yang relatif sangat singkat dalam sejarah dakwah para nabi. Selain ketiga faktor di atas, ada hal lain yang mendukung kemunculan generasi khaira ummah tersebut, yakni kesiapan jiwa para sahabat radhiyallahu anhum untuk selalu berinteraksi dengan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Inilah kunci kebangkitan mereka. Ini pula kunci kebangkitan kita pada saat ini. Saat ini yang harus kita lakukan adalah mengembalikan maknawiyah ummat—termasuk kita di dalamnya—agar mau berinteraksi dengan Al-Qur’an sebagaimana generasi sahabat. Ada tiga karakteristik generasi sahabat dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an.Pertama, menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber utama (al-Qur’an manba-un wahiid). Generasi sahabat mempersepsikan Al-Qur’an sebagai satu-satunya sumber dan landasan kehidupan. Adapun hadits adalah tafsir operasional dari sumber utama itu. Mereka mengenal peradaban Romawi, Yunani, Persia, India, dan China yang tercatat sebagai kebudayaan yang maju waktu itu. Bahkan peradaban Romawi dan Persia mendominasi Jazirah Arab dari utara dan selatan. Tetapi yang menjadi sumber dan acuan generasi sahabat hanyalah Al-Qur’an. Sehingga akal, wawasan, ideologi, dan orientasi mereka terbebas dari pengaruh luar yang tidak sesuai dengan manhaj Al-Qur’an. Sementara generasi berikutnya telah mengalami pembauran sistem dan telah terkontaminasi berbagai polutan dalam memahami sumber utama. Seperti filsafat dan logika Yunani yang banyak mencemari pemikiran pemikir Islam, israiliyat Yahudi dan teologi Nasrani, serta berbagai kebudayaan dan peradaban asing, yang turut mencampuri penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an, sehingga mengurangi kadar kejernihan pemikiran generasi berikutnya dalam memahami Al-Qur’an. Kedua, menerima Al-Qur’an untuk diamalkan (manhaj at-talaqqi). Para sahabat menerima perintah dari Allah persis seperti seorang prajurit menerima perintah dari komandannya. Al-Qur’an diterima untuk diterapkan secara langsung dalam kehidupan pribadi dan masyarakat. Bukan ditujukan untuk menyingkap rahasia alam, sains, atau pengayaan materi-materi ilmiah. Karena Al-Qur’an bukan buku seni, sains, atau sejarah, sekalipun semuanya terkandung di dalamnya. Sesungguhnya ia diturunkan sebagai pedoman hidup (minhajul hayah). Ketiga, Isolasi (mufashalah) dari persepsi lama. Selain menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber utama—yakni dengan membebaskan akal, wawasan, ideologi, dan orientasi dari pengaruh luar—para sahabat pun membersihkan jiwanya dari noda dan kotoran masa lalu di masa jahiliyyah dengan petunjuk Al-Qur’an. Mereka memulai hidup baru yang sama sekali berbeda dengan masa lalunya. Interaksinya dengan Al-Qur’an telah merubah total lingkungan, kebiasaan, adat, wawasan, ideologi, serta pergaulannya. Ketiga karakteristik inilah yang tidak dimiliki oleh generasi berikutnya, sehingga tidak bertahannya nilai-nilai ke-Islam-an yang utuh dalam persepsi dan mata hati mereka. Dr Muhammad Al Ghazali berkata, “Generasi pertama terangkat kemuliaannya karena menempatkan Alquran di atas segala-galanya. Sedangkan generasi sekarang jatuh kemuliaannya karena menempatkan Alquran di bawah nafsu dan kehendak dirinya”. Fenomena Hari Ini DR. Yusuf Qaradawi dalam salah satu ceramahnya mengungkapkan bahwa saat ini kondisi ummat Islam tidak tepat dalam bersikap terhadap Al-Qur’an. Mereka menjadikan Al Qur’an terlupakan, mereka menghapal huruf-hurufnya, namun tidak memperhatikan ajaran-ajarannya. Mereka tidak mampu berinteraksi secara benar dengannya, tidak memprioritaskan apa yang menjadi prioritas Al Qur’an, tidak menganggap besar apa yang dinilai besar oleh Al Qur’an serta tidak menganggap kecil apa yang dinilai kecil oleh Al Qur’an. Di antara mereka ada yang beriman dengan sebagiannya, namun kafir dengan sebagiannya lagi, seperti yang dilakukan oleh Bani Israel sebelum mereka terhadap kitab suci mereka. Mereka tidak mampu berinteraksi secara baik dengan Al Qur’an, seperti yang dikehendaki oleh Allah SWT. Meskipun mereka mengambil berkah dengan membawanya serta menghias dinding-dinding rumah mereka dengan ayat-ayat Al Qur’an, namun mereka lupa bahwa keberkahan itu terdapat dalam mengikut dan menjalankan hukum-hukumnya. Seperti difirmankan oleh Allah SWT: “Dan Al Qur’an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat.” (QS. Al An’aam, 6: 155). Saat ini ummat Islam baru menunaikan kewajibannya terhadap Al-Qur’an sebatas penjagaan dan pemeliharaan saja. Ummat Islam juga menaruh perhatian yang sangat besar dalam mengajarkan Al-Qur’an agar dibaca dan dihafalkan oleh anak-anak mereka. Apa yang mereka lakukan itu memang sudah merupakan pekerjaan besar. Namun belumlah cukup jika hanya berhenti sampai pada titik itu saja. Membaca dan mendengar Al-Qur’an dengan Tadabbur Merenungi (tadabbur) Al-Qur’an merupakan keharusan baik ketika membaca atau saat mendengarkannya. Itulah yang dulu diperbuat oleh para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka senantiasa membaca (tilawah) Al-Qur’an, merenungkan dan mengamalkannya. Mereka tidak beranjak dari satu ayat ke ayat lainnya, dari satu surat ke surat yang lainnya, kecuali setelah mereka benar-benar memahami dan mengamalkannya. عَنْ أَبِى عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ حَدَّثَنَا مَنْ كَانَ يُقْرِئُنَا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُمْ كَانُوا يَقْتَرِئُونَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَشَرَ آيَاتٍ فَلاَ يَأْخُذُونَ فِى الْعَشْرِ الأُخْرَى حَتَّى يَعْلَمُوا مَا فِى هَذِهِ مِنَ الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ. قَالُوا فَعَلِمْنَا الْعِلْمَ وَالْعَمَلَ. (أحمد) Riwayat dari Abi Abdul Rahman as-Sulamiy (seorang tabi’in), ia berkata, “Telah menceritakan kepada kami orang yang dulu membacakan kepada kami yaitu sahabat-sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa mereka dulu mendapatkan bacaan (Al-Qur’an) dari Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sepuluh ayat, mereka tidak mengambil sepuluh ayat yang lainnya sehingga mereka mengerti apa yang ada di dalamnya yaitu ilmu dan amal. Mereka berkata, ‘Maka kami mengerti ilmu dan amal.’” (Hadits Riwayat Ahmad nomor 24197, dan Ibnu Abi Syaibah nomor 29929) Oleh karena itu, para ulama pada masa lalu dijuluki dengan julukan Al-Qurra’ (orang yang banyak membaca Al-Qur’an). Arti membaca (qira’ah, tilawah) bukanlah sekedar membaca tanpa memahami maksud dan maknanya, sebagaimana banyak terjadi pada masa-masa sekarang ini. Akan tetapi Al-Qari’ (pembaca) adalah identik dengan Al-‘Alim (orang yang mengetahui). Dan Al-Qurra’ berarti para ulama dan para pakar hukum Islam. Begitupula mendengarkan Al-Qur’an bukanlah sekedar mendengar atau hanya menikmati keindahan lagu dan suara merdu pembacanya. Akan tetapi mendengar disini harus disertai dengan merenungkan arti dan maksudnya. Bagaimanakah kondisi manusia pada masa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam saat mendengar Al-Qur’an? Allah SWT berfirman, “Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Quran) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Quran dan kenabian Muhammad s.a.w.).” (QS. Al-Maidah, 5: 83). “Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: ‘Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi. Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu‘.” (QS. Al-Isra’, 17: 107 – 109). “Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat- ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang- orang yang tuli dan buta.” (QS. Al-Furqan, 25: 73) “…dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (QS. Al-Anfaal, 8: 2). Begitulah mereka saat mendengar bacaan Al-Qur’an; mencucurkan air mata, menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, menangis dan bertambah khusyu, mendengar dengan penuh kesungguhan, sehingga bertambahlah iman mereka. Bagaimanakah dengan kita? Harus kita akui, cukup banyak di antara kita orang-orang yang apabila dibacakan Al-Qur’an, hatta yang mengandung ancaman-ancaman yang dahsyat, malah bersikap acuh-tak acuh; tidak terpengaruh, seolah-olah tidak mendengar sesuatu yang luar biasa. Yusuf Qaradawi mengatakan bahwa kondisi ummat Islam yang tidak sesuai dengan tuntutan Al-Qur’an tersebut, sangat difahami dengan baik oleh musuh-musuh Islam. Sehingga mereka tidak risau untuk menyiarkan bacaan Al-Qur’an di berbagai pemancar radio mereka. Radio zionis Israel tidak segan-segan menyiarkan bacaan Al-Qur’an, demikian juga Radio London, dan Suara Amerika. Seolah-olah mereka yakin bahwa Al-Qur’an tidak akan berpengaruh sedikit pun kepada kita. Padahal pada masa lalu, ketika Al-Qur’an dibacakan kepada orang-orang Arab, ia mampu menggoncangkan dan merubah peradaban secara total. Orang-orang musyrik sangat takut terhadap Al-Qur’an walaupun hanya dibaca. Mereka menghalangi anak-anak dan wanita-wanita mereka agar tidak mendengar Al-Qur’an. “Dan orang-orang yang kafir berkata: ‘Janganlah kamu mendengar Al Quran ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan mereka’.(QS. Fushilat, 41: 26). Berinteraksilah dengan Al-Qur’an, Islam pasti jaya! “Selama kaum Muslimin masih memegang Al-Qur’an di tangan mereka, maka Eropa tidak akan mampu mencengkramkan kekuasaannya di negeri-negeri Timur!” Kalimat ini diungkapkan pada abad 18 oleh William Gladstone, PM Inggris zaman Ratu Victoria. Dari kata-katanya yang penuh kedengkian ini kita dapat memahami bahwa kekuatan kaum Muslimin sesungguhnya terletak pada sejauh mana komitmennya terhadap Al-Qur’an. Inilah kekuatan dahsyat yang menjadi kunci kebangkitan dan kejayaan mereka. Inilah kunci menuju kemenangan dan kemuliaan mereka. Sejarah telah berbicara sebagai fakta abadi; bahwa ummat ini dapat memperoleh izzahnya dengan Al-Qur’an. Dan merekapun Allah kerdilkan karena meninggalkan Al-Qur’an. Renungkanlah sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berikut: اِنَّ اللّهَ يَرْفَعُ بِهَاذَاالكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ آخَرِيْنَ (مسلم) “Sesungguhnya Allah, dengan kitab ini (Al-Qur’an) meninggikan derajat kaum-kaum dan menjatuhkan derajat kaum yang lain.” (HR. Muslim). Maksud hadits ini menurut DR. Muhammad Faiz Almath, “Barangsiapa yang berpedoman dan mengamalkan isi Al-Qur’an, maka Allah akan meninggikan derajatnya, tapi barangsiapa yang tidak beriman kepada Al-Qur’an, maka Allah akan menghinakannya dan merendahkan derajatnya.” Oleh karena itu mereka yang rindu pada kebangkitan ummat Islam, harus segera membuka katup jiwanya dan memenuhinya dengan kesejukan Al-Qur’an. Biarlah ia mengalir mengisi relung-relung jiwa, menyegarkan iman, membersihkan pikiran, dan membuahkan amal. Mereka harus mengiringi langkah-langkahnya dengan kekuatan kalamullah, sebagaimana generasi pertama mereka memulai langkah-langkahnya dengan kekuatan itu. Ingatlah kata-kata bijak Imam Malik, “Umat ini tidak akan jaya kecuali dengan cara pertama kali ia dijayakan genarasi awalnya.” Tidak ada jalan untuk membangkitkan umat dari kelemahan dan ketertinggalan mereka selain dari kembali kepada Al Qur’an ini. Dengan menjadikannya sebagai panutan dan imam yang diikuti. Dan cukuplah Al Qur’an sebagai petunjuk: “Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?.” (QS. An Nisaa, 4: 122) Maraji’: Al-Qur’an wa tafsiruhu, Kementerian Agama RI Berinteraksi dengan Al Qur’an, Dr. Yusuf al Qaradhawi http://hidayatullah.or.id/in/sistematika-wahyu-dokumen-online-88/56-profil-generasi-qurani/79-profil-generasi-qurani.html?showall=1 Gambaran Terjaganya Kemurnian Islam, Hartono Ahmad Jaiz 1100 Hadits Terpilih, DR. Muhammad Faiz Almath

Sabtu, 07 Juli 2012

BADKO KARTASURA ADAKAN JAMBORE

Jambore Anak Islam Kartasura 2012 atau yang lebih gampangnya disebut dengan JAISKA 2012, itulah nama yang dilabelkan pada kegiatan yang diadakan oleh BADKO TPQ Kartasura pada musim liburan sekolah tahun 2012.Kegiatan ini meliputi acara perkemahan dan beberapa perlombaan untuk sarana uji kemampuan dari santri santri TPQ.
"Selain sebagai ajang silaturahmi bagi TPQ se kecamatan kartasura acara ini juga bertujuan sebagai sarana pendidikan kemandirian dan kedisiplinan sekaligus dalam rangka menyongsong datangnya bulan suci ramadhan" tutur ust Nugroho Raharjo ketika beliau memberi sambutan dalam acara pembukaan yang dilaksanakan pada hari sabtu 30 juni 2012.
Hadir dalam kesempatan itu pula perwakilan dari camat kartasura yang sekaligus beliau secara resmi membuka acara jambore yang dilaksanakan selam 2 hari mulai tanggal 30 juni 2012 sampai 1 juli 2012,dalam sambutannya beliau memberikan apresiasi yang luar biasa terhadap kegiatan jambore pada khususnya dan keberadaan TPQ pada umumnya karena keberadaan TPQ bisa menjadi benteng bagi anak anak dari pengaruh budaya asing yang kurang mendidik.
Acara jambore di ikuti oleh 474 santri yang berasal dari 29 TPQ di lingkup kecamatan kartasura yang memperebutkan piala bergilir dari kecamatan kartasura dan KUA kecamatan kartasura.
Beberpa lomba yang dilaksanakan pada jambore tersebut antara lain

  1. Lomba Cerdas Cermat Islami
  2. Lomba Tartil Al Qur'an
  3. Lomba Tahfidz Juz 'Amma
  4. Lomba Adzan & Iqomah
  5. Lomba Dai Cilik
  6. Lomba Pentas Seni
  7. Lomba Memasak untuk ustadz dan ustadzah TPQ  

Jumat, 08 Juni 2012

Informasi JAISKA

Dalam rangka mengisi liburan sekolah tahun ajaran 2011/2012 Badan Koordinasi Taman Pendidikan Al Qur'an  (BADKO TPQ) Kecamatan kartasura akan mengadakan jambore anak islam kartasura atau yang biasa disebut dengan JAISKA.
Jambore ini merupakan jambore  yang kedua yang diadakan oelh BADKO TPQ Kartasura  setelah sebelumnya pada tahun 2010 pernah diadakan acara yang sama.Jaiska merupakan kegiatan rutin yang diadakan oleh ormas  islam di kartasura  yang diawali oleh Pemuda Muhammadiyah & Nasyaitul Aisyiyah (NA),kemudian diteruskan oleh Forum Komunikasi Ustadz/ustadzah Kartasura (FOKUS TPQ) dan untuk masa sekarang dilimpahkan ke BADKO TPQ KARTASURA.
Acara ini berupa  perkemahan santri santri TPQ selama 2 hari mulai tanggal 30 juni sampai 1 juli 2012 yang didalamnya diadakan berbagai macam kegiatan lomba dan acara acara untuk merekatkan ukhuwah antar santri TPQ.
Kegiatan JAISKA tahun ini mengambil tema "Perkuat Ukhuwah Menyongsong Berkah Ramadhan" dengan maksud dengan mempererat ukhuwah akan terwujud suasana  yang konduksif untuk memaksimalkan ibadah di bulan ramadhan sehingga kita bisa meraih berkah ramadahan dan mendapatkan kemenangan dalam ibadah puasa.